“Asal kau tahu saja mas, sebenarnya sejak awal
kita menikah aku tidak pernah menjadi istri yang baik untuk kamu, aku bukanlah
perempuan yang sebenarnya engkau inginkan, aku jauh dari kata setia, aku
mengkhianati cinta kita, bahkan aku sudah mengingkari kepercayaanmu sejak dua
bulan aku sah menjadi istrimu, selama tiga tahun aku mengenalmu, aku tidak
pernah menjadi milikmu saja, aku selalu jalan dan dekat dengan pria yang
kuanggap mampu membahagikanku, bukan hanya itu, aku juga memuaskan batinku yang
tidak bisa kau jamah dengan tidur bersama pria-pria lain, dan kau tidak pernah
tahu akan semua itu, aku tahu aku memang perempuan yang tidak pantas dan tidak
layak untukmu mas, teman-temanku melarang aku menikah denganmu, tapi aku tetap
memaksamu menikahiku karena kau terlalu sempurna untukku, aku tidak ingin ada
orang lain yang menjadi milikmu apalagi disentuh lembutnya belaian tanganmu.
Aku memang egois, tapi kebodohan dan ketidakperhatianmulah yang membuat aku
menjadi begini, aku mengandung anak orang lain saja kau tak pernah sadar, iya,
Dira bukanlah anakmu, saat kau pergi ke Batam sebenarnya aku belum hamil, tapi
karna kesendirian dan jauh darimu aku tidak bisa menjaga diriku, dan itulah
sebuah pengkhianatanku yang nyata terhadapmu, tempat pengistirahatan yang
selalu menjadi tempatmu memberiku segala kepuasan dan kebahagian duniawi sudah
sering dikotori oleh banyak pria, maafkan aku karena aku telah membohongimu,
maafkan aku sebab tidak bisa menjadi istri yang seharusnya mengabdi kepadamu,
aku tidak bisa mas, aku tidak bisa jika selalu engkau tinggal pergi bekerja ke
tempat yang jauh, aku rindu akan semua kasih sayang, aku ingin selalu dimanja
dan diperhatikan, aku butuh belaian yang bisa membahagiakan birahi duniawiku,
kau terlalu lama dan terlalu jauh dariku, maafkanlah semua pengkhianatanku yang
baru bisa aku ungkapkan kepadamu, sebenarnya aku masih perawan saat pertama
kali aku menjadi pacarmu, aku memang tidak pernah setia padamu, aku sengaja
membohongimu dan mengatakan bahwa aku bukanlah gadis suci lagi sebelum kau
manjadi pacarku agar kau tidak kecewa jika kau menikahiku nanti, aku memang
jujur, tapi kejujuranku adalah sebuah sandiwara, aku minta maaf, mungkin memang
sudah saatnya kita berpisah, hubungan yang kita bina memang tidak bisa bertahan
selamanya, kau lebih baik dengan perempuan yang lain, akupun sudah menemukan
orang yang tepat untuk mendampingiku saat ini. Aku terima talak darimu mas,
terimkasih atas semua warna yang telah engkau berikan dalam hidupku, kau lelaki
terbaik yang pernah aku kenal, aku percaya kau tidak pernah sepertiku yang
tidak saja milikmu, aku yakin kau tidak pernah menyakiti hatiku, aku doakan
semoga kau bahagia setelah tidak bersamaku lagi, biarlah pernikahan kita yang
seumur jagung ini menjadi sebuah cerita yang usang, aku berjanji akan
melupakanmu, akan aku jauhi engkau dari hidupku, pergilah mas, aku sudah sangat
ikhlas melepaskanmu.”
Tiba-tiba Edy mendapatkan email itu setelah 6
bulan perceraian dengan istrinya yang sangat ia cintai. Edy terpaksa
menceraikan Tara karena ia tidak ingin
Tara terus-menerus membiarkan perempuan yang dinikahinya setahun lalu menderita
karena hubungan yang mereka jalani dari jarak jauh. Edy sangat terluka membaca
email yang berupa kejujuran dariorang yang selalu dia percayakan selama ini,
dia selalu menyayangi Tara dengan sepenuh hatinya dan juga selalu ia rindukan
di setiap detik hidupnya meskipun Tara selalu mengeluhkan semua itu. Edy memang
bukanlah tipe lelaki gombal yang pandai merayu dan membujuk perempuan, dia
sangat instrovet, dia lebih suka memendam saja apa yang dia rasakan, berbeda
dengan Tara gadis yang memiliki pendidikan tinggi dan sangat mahir menunjukkan
isi hatinya, Tara selalu bisa terbuka kepada siapa saja, dia juga perempuan
yang sangat asik diajak bicara, dia perempuan yang sangat aktif dalam segala
hal. Kepribadianya tulah yang membuat Edy sangat menyukainya dan tidak pernah
sekalipun mengkhianati sang istri yang
pernah ia pacari selama tiga tahun itu. Tapi apalah daya seorang lelaki yang hanya
berprofesi Manajer tambahan sebuah perusahaan swasta di Batam, Edy sangat terikat oleh
pekerjaannya siang dan malam, dia tidak pernah berkumpul dengan lama bersama istrinya setelah pertama ia meninggalkannya,
ia hanya memiliki cuti di akhir tahun, sayangnya saat ia cutipun Tara sedang tidak
di Indonesia saat itu, sehingga mereka tidak pernah mengahbiskan waktu yang
panjang untuk bersama. Mereka hanya bertemu setiap bulan dengan cara Tara
selalu mengunjungi sang suami di Piayu, itupun hanya di akhir pekan, dan mereka
tidak pernah bertemu lama kecuali hanya tiga hari. Setiap Edy pulang bekerja
mereka hanya berkomunikasi leat udara, hanya menatap wajah dari balik layar hp
saja, hanya itu cara mereka melepaskan rindu. Hal itulah yang membuat Tara
selalu marah-marah dan berubah drastis. Mereka sudah sering ribut setelah
menikah, padahal selama tiga tahun pacaran hubungan mereka sangat harmonis,
tidak pernah ada pertengkaran apalgi perbedaan pendapat, mereka selalu bahagia.
Mungkin benar yang dikatakan oleh banyak orang, hubungan yang terlalu menggebu-gebu
saat pacaran biasanya akan pudar dan hilang kemesraannya setelah berumah
tangga, dan hubungan yang dijalani dengan jarak jauh memang sulit untuk dipertahankan. Itu bukan soal hati,
tapi kebosananlah yang menguasai sehingga setiap pasangan akan merasa jenuh
dengan keadaanya.
Edy tidak membalas email yang Tara kirimkan
padanya, ia hanya menangis dengan hati yang sangat terpukul, hari-harinya
semakin buruk, ia menjadi sangat pendiam, apalagi sikapnya yang memang dingin,
ia terlihat tidak memiliki gairah dan semangat hidup lagi. Ia sengaja tidak
meladeni celotehan sang mantan istrinya karena apapun yang ia lakukan hubungan
mereka memang sudah tidak bisa dilanjutkan, dia sudah sangat kewalahan melayani
istrinya yang super posesif dan agresif itu.
Tara terus menerus menghubungi Edy dengan
berbagai cara, mengirim SMS, membuat status di dinding Edy dan mengirimkannya
chat di setiap akun sosial Edy. Namun sejak hari perceraian hingga kini Edy
sudah jarang membalas semua itu. Edy juga sudah memblokir nomor Tara. Dua bulan
setelah berecerai E dy juga langsung memblokir
akun Facebook Tara. Edy tidak kuasa melihat setiap postingan bahagia
Tara, baik status maupun foto-foto yang ia unggah dengan pacar barunya yang berstatus
TNI AD, lelaki itu adalah mantan pacar dari keponakan Edy sendiri. Bagi Edy, Tara sangat keterlaluan. Hal itulah
yang membuat Edy merasa sangat disakiti dan tidak bisa lagi memafkan Tara.
Anehnya Tara seperti tidak ingin melepaskan
Edy sebelum email itu diterimanya, ia selalu saja menghubungi Edy, Tara sanggup
menelpon Edy hingga 100 kali lebih meskipun tak satu panggilannyapun dijawab
Edy. Sebenarnya Edy masih sangat mencintai mantan istrinya, Edy juga selalu
merindukan mantan istri dan anak mereka Dira. Edy tidak percaya kalau Dira bukan
anaknya, karena semua yang ada pada Dira adalah sebagian diri Edy. Namun
seiring dengan masuknya pesan-pesan aneh dari Tara yang selalu bercerita bahwa
dia selalu tidur dengan pria-pria lain membuat Edy sedikit ragu. Edy
benar-benar hancur dan terluka.
Waktu terus berlalu, Tara benar merasa sudah
putus asa, ia sudah tidak mungkin lagi rujuk dengan mantan suaminya meski
dengan usaha apapun, ia sudah sangat menyesal. Sebenarnya Tara juga masih
memiliki perasaan yang sama dengan Edy, hanya saja dia tidak berani
mengakuinya. Tara memang merasa bersalah, memang pada awalnya Tara sudah tidak
ingin lagi bertahan dengan suaminya yang jauh, ia merasa lelah saja, sehingga
setiap hari ia selalu meminta cerai yang setelah sekian kali baru dipenuhi Edy.
Itu hanya emosi semata, dari lubuk hati mereka, keduanya masih saling
mencintai.
“ Kalau memang kamu sudah tidak kuat lagi
untuk bertahan bersamaku, akan aku lepaskan kamu dari genggamanku. Tapi dengan
satu syarat, izinkanlah aku kembali menjadi imammu saat aku selesai kontrak
nanti. Sejak aku jatuhkan talak kepadamu nanti maka aku perbolehkan kamu untuk
dekat dengan pria lain dengan satu syarat, hanya sebatas pacaran biasa yang
tidak lebih, aku tidak mengizinkanmu bermesraan secara berlebihan dengan lelaki
lain apalagi di depan anak kita. Aku tidak ingin dia menyaksikan hal yang tidak
baik meskipun dia belum tahu semua itu, aku takut dia menyimpan memori itu saat
dia besar nanti. Ingatlah Tara, sengaja aku lepaskan kau saat ini karena aku
ingin kau bahagia, bukan aku sudah tidak mencintaimu seperti yang kamu
tuduhkan. Aku akan kembali, percayalah itu, aku akan selalu setia di sini
untukmu asal kamu menerimaku lagi bila aku kembali nanti. Permintaanku,
tetaplah seperti biasa, rutin berkomunikasi, walaupun tidak sama seperti dulu,
setidaknya setiap hari kirimkanlaha aku satu pesan apa saja terutama mengenai
Dira. Aku ingin meski aku ceraikan kau nanti kau masih bersedia menerima telpon
dariku dan bercerita di akhir minggu tentang apa saja yang kau alami.” Itu
adalah kalimat terakhir yang Edy ucapkan sebelum mereka bercerai. Keadaan yang membuat semua menjadi begitu.
Tara selalu menuduh Edy berubah dan memiliki
perempuan lain di Batam, sehingga seiring waktu Edy menjadi kesal karena
istrinya selalu meragukannya dan bahkan tidak mau lagi percaya apa yang dilakukan Edy. Hingga
akhirnya Edypun berpura-pura memiliki pasangan baru dan mengupload foto mesra
dengan seorang gadis cantik yang juga seksi. Karena melihat foto itu Tara
menjadi sangat kecewa dan marah. Akhirnya karena saling curhat dengan Romy
calon suami dari keponakan Edy tanpa direncakan keduanya menjadi dekat setelah
Tara dan Edy sah bercerai. Romy datang dengan segala perhatiannya yang membuat
Tara bahagia dan merasa sempurna. Sebulan setelah mereka berpacaran Tara bisa
sedikit melupakan Edy, namun parahnya yang terjadi, setiap kali ia bersama Romy
dia selalu terbayangkan Edy, apapun yang ia lakukan dengan Romy selalu
mengingatkannya pada Edy.
Hal yang sama terjadi, Romypun pergi karena
tugas ke Kalimantan, sehingga pasangan baru yang rencananya akan menikah satu
tahun mendatangpun berjauhan juga. Waktu terus berputa, cinta tetaplah satu
rasa yang tidak bisa dibagi-bagi, ia akan tetap pada labuhan pertamanya, sulit
menggantikan sosok yang sebenarnya diinginkan oleh hati meskipun dengan ribuan
canda tawa. Tara kembali merasa
kesepian, sejak ia ketahuan pacaran yang dipicu oleh foto mesra Edy dengan gadis asal padang
Nova, membuat Edy dan Tara semakin jauh,
Edy sudah tidak pada janjinya, ia tidak lagi menghubungi Tara walau hanya
sekedar bertanya tentang Dira, hanya 3 bulan setelah perceraiannya saja Edy
selalu mengirikannya uang sebagai biaya hidup dia dan Dira. Edy adalah lelaki
yang sangat bertanggung jawab, baik hati dan sopan juga lembut, itulah yang
mmebuat Tara menyesal sudah mensia-sikannya dan tidak bersabar setiap
menunggunya. Romy jauh darinya, setiap perempuan pasti merindukan kasih sayang
dan perhatian soerang lelaki. Tara terus menerus menghubungi Edy dan meminta
maaf agar Edy membuka kembali pintu hatinya.Setiap hari Tara terus mengganggu
Edy dengan pesan-pesan singkat yang mesra seperti saat mereka baru menikah
dulu, karena Edy selalu mengabaikannya Tara juga selalu memakai nomor baru dan
Edy selalu tahu itu adalah dia. Hanya saja Edy sudah sangat tersakiti karena ia
merasa Tara sangat munafik, dan ia kecewa kenapa harus Romy meskipun ia tahu
pacaran itu adalah izin darinya.
“Mas, percayalah pada hatiku, hanya kamu saja
yang hatiku mau, aku ingin kembali mas, aku rindu padamu, siang dan malam aku
terus memimpikanmu, aku tidak bisa melupakanmu mas, tolonglah mengerti hatiku,
aku tau aku salah, aku minta maaf, percayalah mas, aku hanya bersandiwara
dengan Romy, aku tidak serius mencintai dia, aku jalani itu semua hanya sebagai
pelampiasan hatiku saja, dia hanya media untuk hatiku berintropeksi diri,
percayalah mas, aku sangat menginginkan kembali menjadi istrimu lagi, jika
memang kau sudah bersama yang lain aku ikhlas, aku rela menjadi yang kedua. Aku
siap asal kau menerima aku dan Dira
lagi. Aku sudah mencoba mencintai dan menjalani hidupku yang baru dengan Romy,
tapi aku tidak bisa mas, aku hanya mencintai kamu seorang, aku tidak bisa
bertahan dengan Romy, aku tidak mencintai dia, aku tidak bisa bahagia dengan
dia meskipun aku sudah mencobanya. Kaulah lelaki paling sempurna untukku mas.”
Tara selalu mengirimkan pesan-pesan semacam ini, entah apa yang diraskan
olehnya, terkadang dia bisa melupakan dan membuang pikiran tentang suaminya,
tapi terkadang ia terus mengingatnya dan lupa pada Romy. Hingga akhirya Romy
membaca langsung pesan itu dari Hp Tara dan ternyata masih sangat banyak
kenangan Edy di Hp nya itu dan membuat Romy sangat kecewa karena mereka telah
berjanji akan saling melupakan masa lalu dan memulai hidup baru berdua. Romypun
pergi meninggalkan Indonesia, ia ditugaskan ke Palestina. Tara sendiri merasa
bingung dengan hatinya, ia juga tidak ingin kehilangan Romy, tapi saat Romy
jauh ia juga tidak bisa melupakan Edy, ia selalu saja mengingat antara keduanya
saat keduanya tidak di sisinya.
Setelah berbulan-bulan Tara sendiri Edy tak
juga mau memaafkan keslahannya dan tidak ingin lagi rujuk dengannya, Edy sangat
kecewa karna hubungannya dengan Romy. Edy selalu teringat akan satu pesan Tara.
“Saat ini aku sudah bahagia dengan Romy, tidak
lama lagi kami akan menikah, aku akan hidup bahagia dengannya, Romy akan
menerim aku dan Dira dengan sebaik-baiknya, dia akan bisa menggantikanmu dalam
hidupku dan Dira, aku akan melupakanmu dan jangan pernah tunjukkan dirimu di
ahdapanku lagi, ku harap kau jangan pernah lagi menghubungiku dan mengganggu
hidupku, biarlah Dira menjadi tanggung jawabku sendiri. Aku besumpah akan menghapus kau dari dari
hidupku.” Itulah alasan Edy tidak lagi memperdulikan Tara, Edy memang satu
lelaki yang sangat berpegang teguh pada penderiannya, meskipun sebenarnya ia
tidak kuasa untuk menjauh dari Tara tapi itu sengaja ia lakukan karna atas
dasar permintaan Tara sendiri. Sedangkan
Tarapun bersikokoh sok bahagia dengan orang baru karena Tara menganggap Edy
sudah benar-benar tidak menginginkannya lagi, ia yakin Edypun sudah bahagia
dengan wanita lain sehingga ia berpura-pura mengirimkan pesan email yang
menyatakan ia selalu selingkuh dengan banyak pria, padahal saat ia mengirimkan
email palsu itu dia sudah sendiri dan sudah diputuskan oleh Romy. Namun Edy
tetap bisu tanpa tanggapan. Entah Edy tahu atau tidak yang sebenarnya.
Tidak terasa sudah dua tahun setelah
perceraian itu. Kini Edy sudah kembali ke kampung halaman, tapi Edy yang
bertubuh kekar dan bugar tidak lagi dalam fisiknya yang sesempurna dulu. Edy
sempat mengalami kecelakaan saat masih di Batam dulu dan beberapa hari setelah
menerima email yang sebenarnya isinya adalah kebohongan semata yang Tara
ciptakan sebagai satu ajaln cepat untuknya melupakan Edy. Edy menjadi cacat,
kakinya patah. Bukan hanya itu, Edy juga menderita penyakit Hernia. Penyakitnya
semakin parah, meskipun pihak keluarga memaksanya berobat Edy tetap pada
hatinya, ia tidak ingin sembuh karena ia merasa hidupnya sudah tidak ada arti
lagi. Tara adalah wanta yang sangat ia cintai sepanjang hidupnya, Tara adalah
perempuan pertama yang menjadi pujaan ahti Edy, selama dua tahun bercerai
dengan Tara ternyata sebenarnya Edy tdak pernah membuka hatinya untuk perempuan
lain. Ia siang dan malam hanya merinduka Tara dan Dira, mereka berdualah harta
paling berharga bagi Edy.
Tidak lama setelah Edy kembali dari Batam
dan ia juga sengaja melarang keluarganya
untuk memberi tahu kepada Tara akhirnya
Edy meninggal dunia. Sebelum meninggal ia sempat meninggalkan sebuah kotak yang
berisi puluhan foto Edy dan Tara juga Dira, ternyata setiap hari Edy selalu
membuka Facebook Tara dan selalu mnyimpan setiap foto mantan sitri dan
anaknnya, kotak itu adalah kotak saat Tara memberinya hadiah ulang tahun Edy
yang ke-23 saat mereka masih pacaran dulu, Edy masih menyimpan semua ucapan selamat
ulang tahun dari teman-teman Tara di kampus dan juga surat ungkapan hati Tara
yang menceritakan betapa bahagainya dia saat menerima pinangan Edy, di surat
itu Tara menuliskan sebuah janji, “Atas nama cinta kita, Aku berjanji akan
selalu setia kepadamu mas, aku akan senantiasa mendampingimu, aku tidak akan
pernah meninggalkanmu, aku akan
selamanya menjadi milikmu, jika itu aku ingkari aku akan kehilanganmu”. Itulah
sumpah, Tara sangat merasa menyesal atas kebodohannya sendiri, ia membaca
setiap lemabaran buku harian mantan suaminya itu dengan penuh air mata. Di
dalam kotak itun juga ada sebuah kotak kecil yang isinya emas seberat 25 gram
sebagai hadiah untuk Tara dan Dira. Tidak hanya itu, Edy juga memberikan sebuah
buku bank dengan jumlah uang 75 juta rupiah dan tertera nama Tara. Itulah kekuatan
cinta, sumpah juga akan terwujud seperti yang Tara janjikan, jika ia ingkar
maka oa akan kehilangan Edy, dan itu terjadi. Tara benar-benar sangat menyesal
atas semua itu.
Dirapun semakin tumbuh dengan ceria, ia sangat
mirip dengan Edy. Lama kelamaan, hingga usia Dira 5 tahun Tara masih tetap
sendiri, Romy juga telah menikah dengan gadis lain. Tara sudah banyak menolak
lamaran dari banyak pria, ia mengahabiskan seluruh sisa hidupnya dengan
mengingat Edy dan mencintai sosok Edy meski di dunia yang berbeda. Semua harta
yang Edy tinggalkanpun ia bangun sebuah yayasan anak yatim dengan fasilitas
tempat bermain yang memadai, ia juga menadapat bantuan dari pihak perusahaan
tempat Edy bekerja sebagai tunjangan Edy. Yayayasan itu diberi nama DiRa yang
menjadi inisial nama Edy dan Tara sekaligus nama anak mereka. Setahun kemudian
Tarapun menyusul sang mantan suami yang sangat ia cintai dan masih selalu ia
cintai itu dengan tidak sedikitpun mengingkarinya. Ia meninggal karena Tumor
payudara yang sudah ia derita selama 2 tahun, dan penyakitnya itu tidak ada
satu keluarganyapun yang tahu. Kini tinggallah Dira dirawat oleh Ibunya Tara
termasuk dengan Yayasan Dira sudah beralih menjadi tanggung jawab adiknya Tara.
Cinta yang sejati akan selalu berdiri pada
hatinya sendiri, ia akan terus bersemi sampai kapanpu, cinta sejati yang hakiki
tidak mengenal kata bosan dan jenuh, ia akan senantiasa pada kesetiaannya. Hati
harus dijaga, apa yang dirasa akan menajdi sempurna bila saling adanya
keterbukaan dan komunikasi. Kita pasti akan menyadari betapa cintanya pasangan
kita jika kita selalu setia menunggunya di manapun ia berada, kita tidak akan
menyesal karena kehilanganya bila selama ia ada kita tak sedikitpun
mengecewakannya. Tapi hati akan menangis jika cinta kita bersedih dengan air
mata. Setialah pada pasangan kita, karna kita tidak pernah tau kapan kita akan
tidak bisa lagi dan melihat menyentuhnya. Bahagialanlah dia semampu jiwa dan
raga, karan cinta akan bertemu pada satu hati di waktu yang indah bagi kedua
insan yang memiliki cinta itu. Sebuah hubungan tidak akan bisa dijalani bila
tanpa adanya kepercayaan, dua insan yang saling mencintai haruslah saling
jujur, terbuka dan percaya, bila itu tidak ada maka hubunganpu akan hancur dan
terabaikan. Percayalah pada pasangan hidup kita.
#With Love, AdeLfi
Banda Aceh,
18 Mei 2015
Ini postingan pertama.
BalasHapus