Rabu, 02 Desember 2015

Gelar-gelar Duka



Sepuluh tahun sudah aku seorang diri sejak bencana gelombang hitam yang menyisakan tangisan dan duka. Hari ini,di sudut kamarku yang kecil dan sepi, aku termenung menghayati nasibku yang malang. Di luar,hujan semakin deras dan berteriak dengan kencang, menangisi bumi yang telah lama gersang, menderai tanpa henti. Keadaan semakin mencengkramku. Percikan  hujan lebat di atap kamarku, membuat hati ingin menjerit. Seketika aku menjadi takut. Ketakutanku  itu jelas, gemuruh langit mengingatkanku pada suasana pagi yang bersejara. Tubuhku langsung menciut. Aku  benamkan kepalaku dalam tundukan air mata duka dan kerinduan. Kudekap  erat-erat tubuh mungilku yang kering.

Di balik jendela, aku melihat langit semakin gelap. Awan  telah menutupi keindahannya, seakan alampun ikut bersedih menyaksikanku. Cuaca semakin buruk. Genangan  emas penuhi permada coklat. Melihat air yang tinggi di setiap sudut kota, banjir yang sedang berkuasa, seakan mengajakku untuk menjelajahi kisah  sepuluh tahun silam, meski berbeda jenisnya. Bagiku dulu dan kini tetaplah deraian. Tsunami  10 tahun yang lalu, dan kini banjir kembali melanda. Aku menjadi lemah dengan alamku. Kenangan  duka telah datang dengan seram. Mengajakku  berpilu. Keadaan  ini menghantuiku pada suasana panik sepuluh tahun yang lalu. Kenangan pahit yang masih sangat jelas terekam di imajinasiku.  Aku masih mampu mengingat ekspresiku saat itu, semua  masih dapat aku bayangkan. Sepuluh tahun, benar-benar bilangan hitam yang menyayat batinku. Tak terasa, kini sudah sepuluh tahun kepergian orang yang paling aku cintai.

Pagi baru saja dimulai, semua orang masih dengan aktifitas ringannya. Aku tidak lupa, saat itu aku berusia sepuluh tahun, sangat belia bukan?. Aku, abang-abangku dan juga adikku, kami sedang menikmati sarapan pagi di hari libur, sedangkan ibu dan ayah tak luput dengan kegiatan rutin mereka. Aku berasal dari keluarga yang tidak bergelimangan harta. Hidup  kami sangat sederhana. Tidak  ada kemegahan dan kemewahan intan permata. Akan tetapi, keluargaku tak pernah kekurangan cinta dan kasih saying. Kami  sangatlah akur, rukun dan damai. Kami  memiliki orang tua yang sangat mengasihi dan menyayangi anak-anaknya. Ibu yang sedang memetik cabai di kebun belakang,tiba-tiba terkejut dan berteriak.
"Laailaahaillaulah, allahuakbar, hariMu telah tiba, kuasaMu ya allah, allahu akbar".
Ayah yang sedang sibuk dengan ternaknya, berlari kencang dan menarik kami ke luar. Adikku yang bungsu menangis ketakutan. Akupun  menyusulnya, tapi ayah dan ibu menenangkan kami.
"Jangan takut anakku, kita akan selalu bersama, kita di sini selamanya, berpeganganlah, allah hanya sedang menegur kita yang mungkin lupa kepada-Nya".
Itulah gempa yang pertama sekali aku rasakan begitu dahsyat. Goncangannya  sangat hebat. Seakan  bumi hanya sebuah gubuk reyot yang tergoyangkan. Aku menjadi pusing. Kedua  abangku memelukku dengan erat. Rumah kami seolah akan hancur dan roboh. Semua  barang berjatuhan. Pintu-pintu  saling berpukulan ,tampaklah istana gubuk kami saling berpisah antara dinding dan atapnya.  Tiang -tiang mulai patah. Gubuk  kami menjadi tak berdaya untuk berdiri tegak. Mungkin  masa jenuh telah menyapa mereka. Mereka  telah bosan bersama, akhirnya mereka bercerai.
Gemuruh langit dan bumi mulai heboh. Hanya  beberapa menit setelah gempa berhenti aman,  orang-orang mulai berlarian dengan kencang seiring dengan binatang yang juga takut layaknya para insan, mereka lari tak menentu. Mereka  seakan paham akan bumi yang menangis marah. Meski pijakan kaki mereka yang sedang menyelamatkan diri masih sangat jauh dari pandangan mata, namun suaranya sudah jelas terdengar seakan tepat di hadapanku saat itu.

"Air laut naik"  kata seorang laki-laki yang melewati rumah kami sambil menggendong anaknya.
"Ayahhhhhh.........!!"
Ibu seperti melihat ayah dengan raut gelisah dan takut, seperti meminta ayah untuk berbuat sesuatu. Ayahpun langsung paham dengan panggilan yang penuh makna itu. Mereka  benar-benar sejiwa dan sehati, itulah keterikatan batin dalam cinta dan kasih sebagai orang tua yang bertanggung jawab. Ayah  segera memegang tangan abang sulung dan adik bungsuku. Kami  berlari jauh untuk mencari perlindungan dan ketinggian.
Seperti ada malaikat yang memberi kecerahan, seorang bapak yang membawa becak datang dengan sendirinya dan langsung  menolong kami.
"Naiklah" Pinta sang bapak tua yang berhati mulia itu.
Adikku mendahului kami. Masih  jelas kulihat senyum di wajahnya, dan ternyata itulah senyuman terakhir yang bisa aku  nikmati.
Di sepanjang perjalanan, ibu tak cukup-cukup berpesan dan menghibur kami agar tenang.
"Ayah, anak-anak ibu, kalian jangan panik dan takut ya? Kita  akan sama-sama di sini.  Kita   akan selalu bersama.  Elfi  putri ibu, jangan menangis ya saying. Kita  tidak akan berpisah. Ini  hanya musibah dan teguran sang  ilahi."

Aku memperhatikan sekitarku. Semua  orang berusaha menyelamatkan diri. Banyak  anak kecil yang terjatuh dan nenek-nenek tua yang tak berdaya tertinggal di belakang. Banyak  kendaraan yang berdesakan dan bahkan kecelakaanpun terjadi. Seruan azan terus berkumandang dan bersahutan di mana-mana.Ibu terus saja berpesan.
"Apapun yang terjadi, kita harus dalam satu genggaman. Jangan  berpencar. Eratkan  pegangan kalian masing-masing. Ibu  sangat bahagia mendapati anugerah titipan ilahi, yaitu kalian anak-anak ibu yang manis dan baik budi. Meski  ibu tau kita hanya sementara di dunia ibu, tapi ibu sangat bersyukur pernah memiliki dan hidup bersama kalian anak-anakku. Kita  harus selamanya bersama.  Ayah ,abang, kakak dan adik, maafkanlah ibu jika ibu belum sempurna merawat kalian, ibu mencintai kalian semua."
"Ibu, berhentilah menangis. Ibu  adalah wanita terhebat kami. Ibu  sangat sempurna. Kami sangat  bahagia pernah menghabiskan waktu bersamamu, iya kan nak?" ungkap ayah seraya memeluk ibu dan mencium kami semua.
Entah kenapa, tiba-tiba aku berbicara aneh secara spontan.
"Kakak tidak ingin kehilangan kalian semua.  Jika memang ada nyawa yan harus kembali.  Semoga  itu adalah kakak. Kakak  ikhlas jika jasad kakak telah tiada, yang penting kalian tidak meninggalkan kakak seorang diri di sini."
Aku menangis tersedu-sedu. Aku  adalah putri satu-satunya ayah dan ibu. Hanya ada aku dan ibulah bidadari tercantik di keluarga kecil kami.
"Kita akan selamanya bersama. Tidak  akan ada yang pergi anakku." itulah kalimat yang berulang kali ibu katakana. Ibu  mencium ubun-ubun dan rambutku yang panjang dan mengusap keningku.

Tanpa terasa, gelombang hitam yang setinggi pepohonan ikut berlari mengejar di belakang. Gulungannya  sangat pekat dan hitam, tampak  kotor dan mengerikan. Gelombang  yang terlihat seperti mulut naga yang menerka  segala yang ada di depannya. Dengan mata yang jelas, aku melihat banyak insan yang tergulung gelombang dahsyat itu. Ia  dengan marah memakan semua yang ada di hadapannya. Hatiku seakan remuk dan hancur berpuing perih. Aku  benar-benar takut. Aku bergetar. Bagiku  dunia sudah berakhir kala itu. Aku pasrah. Penglihatanku  menjadi gelap gulita. Aku benar-benar lemah tak lagi berdaya. Aku  merasakan perih dan pahit di tenggorokanku. Aku seolah mati dalam mimpi yang aku khayalkan kemarin.
Aku tersentak saat ibu menarik tanganku dengan kencang, ternyata gelombang hitam pekat itu telah menelan kami dengan sangat ganas. Kami  terlibat dan ikut bermain dalam luapan air laut perusak bumi itu. Arusnya sangat kuat. Pukulan demi pukulan menghantam tubuh kami. Kami sudah tak mampu lagi untuk bangkit dari tindasan dan timpaan segala benda yang ada. Kami  dihantam dengan kuat.

Saat itu, kami masih dalam satu pegangan. Tak  ada yang terlepas.         Sejenak  ku berpikir, inilah kekuatan cinta yang selalu menyatukan walau dalam perang yang tak berhujung. Kebersamaan  mampu menenangkan. Aku  yakin, cinta seorang ibu pasti akan mengikat satu dengan yang lain. Kala itu aku menjadi tenang,rasa takutku telah sirna,semua sentuhan orang yang kusayangi masih dapat kurasakan dengan jelas. Kami bagaikan ikan di lautan tenang, berenang dengan liar, yang sesekali muncul kepermukaan yang telah hancur tiada berbentuk lagi, lalu tenggelam lagi bagai batu yang terlempar. Penglihatan terakhirku adalah ibu. Aku melihat wajah ibu yang lesu. Matanya  memerah. Rambutnya  berantakan. Gelombang kembali menghantam kami berulang kali. Pegangan  kami masih bersatu, namun ketika gelombang yang terus silih berganti, pegangan ibu melemah. Ibu dan adik bunguku terpisah dalam gumpalan bulutan pasir yang berlumpur. Aku  menyadari hal itu. Aku merasa seorang diri tanpa satu tanganpun yang memegangku. Aku merasakan tubuhku tertusuk dan teriris runcingan tajam. Perih sekali, sakitnya teramat sakit. Rasanya aku ingin menyerah. Pagar kawat menahanku. Aku  tersangkut karenanya. Aku mencoba melepaskan diri, tapi dayaku melemah. Aku ingin pasrah, tapi aku teringat pesan ibu "kita harus selamanya bersama." Itulah kekuatanku. Aku ingin berjumpa lagi dengan mereka semua. Aku mencoba melepaskan diri, tapi lilitan rambutku yang panjang membuat aku tersiksa dan terperangkap. Aku semakin lemah. Semangatkupun memuncak. Setelah  itu semunya buram dan hampaAku  lupa apa yang terjadi pada diriku sendiri.

Saat ku tersadar. Aku  telah berada dalam pangkuan seorang perempuan asing. wajahnya tak kukenali. Ialah  yang menyelamatkanku.
Ternyata dia mendapatiku dalam keadaan pingsan dengan tubuh terjatuh ke dalam sebuah sumur.
"Alhamdulillah rambutmu menyelamatkanmu nak, engkau  tersangkut di pagar dengan tubuh yang dingin dan pucat. Ibu pikir kamu sudah tiada, tapi ternyata kuasa allah sangat indah." Sang  ibu bercerita dengan penuh kesedihan.
"Ayah, ibu, abang, adik, mereka di......?" kalimatku tak selesai, sang ibu mencium dan memelukku sembari berkata " kamu hanya seorang diri saat itu"
Jangan takut, ibu akan ada di sini untukmu."

Apa yang sudah terjadi ya allah?
Aku benar-benar tak kuat melihat keadaan bumi yang terporak-poranda hancur. Aku  ingin menangis melihat tanah yang kosong tanpa sebatang pohonpun. Tak  ada kehidupan di sana. Bahkan sehelai  daunpun tak kutemui di sana. Seikat  rumputpun juga  tak ku dapati. Banyak  bangkai binatang yang sudah gembung di sepanjang jalan. Rumah -rumah tinggallah semennya yang rata.
Aku benar-benar takut melihat lumpur yang tinggi, sampah bertaburan, semuanya berwarna emas gersang. Angin - angin terasa begitu mengiris kulitku. Inikah teguran-Mu ya allah?

Seminggu setelah bencana itu, entah bagaimana caranya. Allah  mempertemukan aku dengan ayahku yang sedang dirawat di rumah sakit, sama sepertiku. Paru-paru ayah terinfeksi pasir kotor.
"Ibu, abang-abang dan adikmu sudah pergi kak. Mereka  sudah tiada".  Itulah   kalimat terburuk yang sesungguh tak ingin kudengar. Aku rapuh. Aku  bagai kertas diterbangkan angin. Aku  hampa dalam tangisanku sendiri.
Aku ikhlas. Takdir  allah ajal mereka telah tiba. Aku sangat bersyukur sebab ayah masih bersamaku. Tapi apa yang terjadi? Tiga hari setelah itu, dunia kembali menghukumku. Ayah menyusul mereka semua. Beliau meninggalkanku di rumah sakit dengan ibu angkatku.
Mereka telah meninggalkanku seorang diri di sini. Aku  tak tau suratanku. Aku paham makna kalimat yang selalu ibu ucapkan. “Kita akan selalu bersama".
Iya, mereka memang tetap bersama meski tak hidup bersama di dunia ini, tapi mereka hidup bersama di alam yang abadi. Mengapa mereka tak mengajakku?
Takdirku berbeda, inilah garis hidupku. Kini  aku hanya gadis sebatang kara. Aku bersyukur allah kirimkan seorang ibu angkat yang memberiku cinta dan kasih layaknya orang tua kandungku sendiri.

Kini, sudah sepuluh tahun sejak kepergian mereka. Aku memang sudah terbiasa. Akan  tetapi, hal yang paling kubenci adalah setiap kali aku menuliskan riwayat hidupku. Lembaran  identitas keluargaku selalu kosong. Kosong karna hanya ada nama dengan gelar abadi yang telah megikuti nama mereka. Gelar yang sangat membunuhku dengan perlahan. Gelar duka yang tak kuduga. Almarhum  dan almarhumah, itulah yang kini sangat menyayat batinku. Sangat  menyakitkan. Aku  selalu akan mati dengan nama-nama mereka.

Pintaku dalam sujud pada-Nya. Aku  ingin dipersatukan kembali dengan mereka. Aku  rindu kehidupan bahagia yang pernah ku rasakan dulu. Aku ingin nasihat seorang ayah. Aku  butuh sentuhan belaian sang ibu tercinta. Aku  ingin bermain lebih lama lagi dengan abang-abang dan adikku. Pertemukanlah aku dengan mereka ya allah. Walaupun  hanya dalam mimpi. Semoga mereka tenang di sisi-Mu. Aku berharap,mereka bahagia dalam cinta dan surga-Mu.


Cerpen ini sudah pernah dimuat surat kabar harian “ RAKYAT ACEH”.
Karya Elfiyani
Tertulis Untuknya
(Pinokio)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar