BACALAH TENTANG BAGAIMANA GURU MULIA
HABIB UMAR BIN HAFIDZ MENGAJARKAN
AKHLAQ KEPADA ISTRI DAN PUTRA PUTRI NYA
YANG AKAN MENJADIKAN AIR MATA KITA
BERDERAI DAN HATI KITA BERDEBAR HEBAT .
Selamat membaca dan mengambil keberkahan
dari setiap kisah Orang Orang Sholeh
••••••••••
Cerita Ustadzah Halimah Alaydrus .
Selagi kami masih duduk di daruzzahro Guru
Mulia Alhabib Umar r . a pernah berkata kepada
salah satu putri beliau ؛
" Darul mustofa dan Daruzzahro ini bukan lah
kepunyaan kita , sekalipun ayah yang
mendirikannya tetapi sejatinya Adl. kepunyaan
Kakek kita Rasulullah Saw beserta putri kecintaan
beliau ibu kita Sayyidah Fatimah Azzahro R . a ,
maka sekali 2 kamu jangan berbuat se enaknya di
dalamnya, harus tunduk dengan segala macam
peraturannya , jangan memakan hak 2 tamu
Azzahro sebelum mereka semua telah habis makan kecuali sisa2 puing makanan dari mereka . . ingat !!
peran kita di sini hanya sebagai pembantu ,
khaddam dan pelayan yang melayani Rumah ini beserta tamu 2 nya . . .
terasa hancur lebur jiwaku mendengar pernyataan ini yang langsung ku dengar dari bibir mungil
putri bungsu beliau , saat itu jam istirahat , aku bertujuan hendak ke kamar kecil, tetapi aku melihat putri kecil itu duduk seorang diri di salah satu tangga daruzzahro sambil memegang perut ,
maka aku pun menghampirinya dan bertanya
" ada apa denganmu wahai putri mulia "
maka dengan polosnya ia menjawab bahwa ia
dalam keadaan lapar sedari tadi sebab sebelum
pergi ke sekolah tidak sempat bersarapan
terlebih dahulu, khawatir terlambat ucapnya , spontan aku membalas ucapannya dan berujar ؛
" mengapa yang mulia tidak mengambil sepotong roti di ruang makan darruzzahro saja ?
ia hanya menggeleng sambil tersenyum
atau pulang sebentar ke rumah mengambil
sarapan ? tawarku kembali
ia pun tetap membalasnya dengan gelengan
aku semakin keheranan
bukan kah engkau putri guru mulia kami ?
pemilik Daruzzahro ini wahai yang mulia?
maka ia pun menceritakan pesan sang ayah untuk
putra putri dan seluruh keluarga , mendengarnya
Aku tercengang dan terkejut , ku rasakan sudut mataku mulai berembun ,hatiku bergetar mendengar penuturannya, tidak hanya sampai di
situ putri kecil guru mulia mengejutkanku dengan
perkara lain , merasa kasihan dan tak tega aku pun merogoh
saku baju dan mengambil selembar uang di dalamnya ؛
" jika begitu ku mohon Ambilah ini sebagai
hadiah dariku , dan belilah sedikit makanan untuk
mengganjal perut yang mulia "
ucapku penuh harap sambil menyodorkan
selembar uang itu ke hadapannya
ia tersenyum ramah, mata beningnya menatapku lembut dan ia menolak halus pemberianku
dengan menggeleng gelengkan kepalanya , namun aku terus merayu dan memohon agar dia
bersedia menerimanya , tetapi putri kecil guru
mulia tetap bersikeras untuk tidak menerimanya
dan terus mengindahkan tangannya dari tanganku , melihat usahaku tiada henti , dengan polosnya
ia berkata ؛
" Maafkan aku saudaraku . . bukannya menolak pemberianmu , dan ingin melukai perasaanmu ,
akan tetapi ayah mengajarkan kami untuk tidak memberatkan orang lain dan tidak berharap belas
kasih manusia selain belas kasih Allah swt ,
simpan lah uang itu , kerna engkau lebih
memerlukannya ketimbang aku , lagipula kalo ayahanda mengetahui pasti beliau tidak akan
menyetujuinya .
tes tes . . . ku rasakan air mataku mulai berjatuhan di pipiku , aku memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki , ku lihat kerudungnya
nampak kumal ,pakaiannya pun terlihat lusuh , ia hanya menggunakan keresek putih untuk alat 2
sekolahnya , kakinya penuh debu tanpa
mengenakan sandal , aku terdiam terpaku tak
mampu berkata sekalimat pun sampai putri guru
mulia berlalu dari hadapanku sambil berlari 2 kecil
dengan wajah yang tetap riang aku menelan ludah susah payah gemetar jiwaku
menatap bayangnya yang perlahan menghilang
dari pandanganku , hatiku bergetar hebat ,
pendidikan macam apa ini yang membuat anak
sebelia dia memiliki hati sedemikian mulia ,
sambil berderai air mata ku segerakan langkahku
menuju kamar , sesampainya di kamar ku membenamkan kepalaku di bantal dan pecah
tangisku seketika ,bagaimana tidak ?
jiwaku hancur lembur di hantam Akhlak mulia
sebegitu luhur , benar benar kami ini murid yang tak tau diri , jauh kami merantau dari negara kami hanya demi menimba ilmu serta mengambil
keberkahan dari Guru Mulia beserta Sang Istri ,
malam 2 kami tidur dengan nyenyak , tidak
pernah sedikitpun kekurangan air dan makanan ,
bahkan kami menganggap tempat ini seperti rumah kami sendiri , terkadang kami berbuat
semaunya , makan dengan kenyang dan
menggunakan kipas Angin dan Ac sepuasnya ,
tetapi bahkan guru mulia yang mendirikan tempat ini pun merasa tidak memilikinya dan tidak berlaku se enaknya.
hatiku benar benar serasa di cambuk rasa malu yang begitu dalam , teramat malu atas ketidak tahuan kami ,atas sedikitnya perhatian dan
kepedulian kami , Guru mulia beserta keluarga
begitu memuliakan para pelajarnya melebihi
penghormatan kami kepada beliau .
huhuhu aku terus saja menangis . .
sampai Akhirnya terdengar suara peringatan waktu
istirahat segera berakhir , aku pun menghentikan
tangisanku dan menyeka air mata ,masih dengan
mata yang sembab aku bangkit berdiri dan
berniat mengambil Air wudhu , saat ku lewati
ruang makan Dar zahro Sungguh ku menyaksikan
pemandangan yang kembali sangat membuat hatiku miris , ku lihat tangan mungil putri mulia
memunguti beberapa pecahan Roti yang tersisa dari bekas sarapan sebagian pelajar tadi pagi ,
melihatnya aku membuang pandangan kerna tak sanggup menyaksikannya .
kejadian tsb sangat membekas di hatiku sehingga aku merenungkannya selama berhari hari
semenjak itu aku jadi jarang ikut makan bersama
dengan teman teman lainnya , kecuali menunggu mereka telah usai semua , dan aku mulai
bermujahadah melunturkan kesombongan yang
ada di diriku , terkadang aku sengaja memakan
roti yang sudah kering dan keras yang sudah ku hancurkan sebelumnya , atau memakan bekas2
nasi yang akan di buang , atau makan bersama
kawan tetapi dengan suapan yang terbatas ketika kenyang hanya 3 suap jika memang dalam keadaan lapar hanya 9 suap
semua itu sengaja ku lakukan agar diriku yang
sangat payah ini dapat merasakan kerasnya
menuntut ilmu tanpa memanjakan diri sedikitpun ,
terlebih 2 setiap mengingat kejadian di atas hatiku
sangat Malu terhadap Sang Guru , Kami hanya
seorang murid dan hanya menumpang di tempat
ini , harusnya kami yang menjadi pelayan
bukannya memanjakan diri terus menerus .
selain itu aku sering mendengar salah seorang putri tertua Guru mulia yang tak lain beliau salah
satu dari guru kami di darzahro , jika hendak
makan beliau selalu bertanya ؛
Apakah seluruh pelajar darzahro telah usai
makan ?
jika semuanya telah makan maka beliau pun akan makan dari sisa kami
namun jika ada yang belum maka beliau selalu
menunggu ,
tak jarang bahkan beliau tidak mendapat bagian sama sekali .
sering pula kami saat malam hari mendapat
makanan sisa dari tamu 2 guru mulia ,bukannya
menyimpan untuk keluarga , beliau malah
menyerahkan sisa makanan 2 yang lezat tsb kepada para pelajarnya .
Sang Guru kecintaan kami , istri dari Guru mulia ,sering kali ku saksikan beliau memasak sendiri
untuk para tamu dan untuk kami murid 2 nya
pernah suatu hari beliau mengundang para
pelajar untuk makan siang di rumah beliau, ketika kami datang ku lihat beliau bersama putri 2 beliau begitu sibuk menyiapkan hidangan untuk kami ,
memasukkan Nasi ke dalam nampan
,menganggkat nampan dan memberikannya
kepada setiap lingkaran , setelah semua
mendapat bagian baru lah sang guru
menghampiri kami dengan wajah berseri 2 terus menerus tersenyum seraya mempersilahkan kami
mencicipi hidangan lalu beliau makan bersama
kami ,
seusai makan kami mengkaji beberapa kitab yang di ajarkan langsung oleh sang Guru ketika sore menjelang usai pengajian kami di
persilahkan kembali ke daruzzahro ,
maka kami bergantian bersalaman dengan sang Guru . .
sebagian pelajar telah kembali yang tersisa hanya beberapa orang saja termasuk aku
seorang khaddam datang memberi tahukan kepada beliau bahwa beberapa di antara pelajar
ada yang tidak ikut makan siang di sebabkan
sedang berpuasa
maka ku lihat seketika itu juga Sang Guru
memerintahkan agar mengambil makanan yang tersisa untuk putra beliau Supaya di berikan
kepada para pelajar yang berpuasa saja , dan tak segan 2 beliau memberikan satu teko kopi jahe yang di buatkan khusus untuk beliau agar di
bawa ke darzahro , tetua daruzzahro sempat
menolak halus saat beliau memberikannya dan biarkan saja jatah putra beliau jangan di berikan beliau pun membalas ucapan tetua tsb ؛
bawa lah ini kepada mereka , aku sangat malu jika di antara mereka tidak makan di rumah kami
, tak masalah bagi putraku nanti akan ku buatkan
lagi makanan untuknya ,dan satu teko kopi ini
apalah artinya di banding pahala memberi seteguk minum orang yang berbuka puasa ,
sungguh aku tak rela jika mereka kembali ke
darzahro tidak mendapatkan hidangan apa pun
,kerna mereka adl . tanggung jawab kami di dunia
dan Akhirat .
kami yang mendengar ucapan beliau semua
tertunduk malu , terlebih 2 aku , kekerasan jiwaku
kembali di hantam oleh Akhlak luhur yang maha
dahsyat , lagi lagi aku meneteskan air mata , tidak
masa depan akhirat kami saja yang menjadi
kepedulian beliau , bahkan kepada dunia kami beliau sangat peduli dan perhatian .
terima kasih Ya robby . . .
Sang Guru dan Guru mulia Adl. Anugerah
terindah dalam hidup kami , kehadiran mereka
merupakan karunia terbesar bagi Ummat ini
,olehnya kami memilikki berjuta 2 alasan untuk
mencintaimu dan menjadi pembelamu wahai Sang
Guru . . .
Hidup & Mati kami di jalanmu dan itu merupakan
sumpah setia kami kepadamu selamanya wahai
yang Mulia . . . .
Semoga kita termasuk murid nya guru mulia alhabib
🌷💕
Bermimpi satu kesengan harianku. Berbagi dengan dia yang meminta. Ramah dengan semua yang menantiku jika ia yang kupinta. Tiada jeda pada seribu kata y kututur juga yang tertulis. Semua hal sama hingga takut bukanlah pilihan. Menyatakan segala yang nyata adalah jatiku. Meski gelas itu sudah pecah, bagiku akan tetap sama bila sudah disatukan kembali. Aku mengalir seadanya, bagaikan asa sang penantiku. Itulah Aku, PiePop.
Selasa, 01 Mei 2018
Sikap dan Sistem Hidup Keluarga Habib Umar Bin Hafizf
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar