Ibuku berkali kali mengingatkan. "Janganlah engkau menjatuhkan harga dirimu hanya demi menuruti hatimu. Apa malumu sudah hilang?? Apa kau tak sadar setiap jawabannya adalah sebuah penolakan. Seharusnya kau lebih peka akan setiap makna dari pesannya. Bukankah di jurusanmu itu diajarkan?? Cara dia menanggapimu itu hanya sebatas interaksi sesama insan, dia dengan tegas menolakmu. Dia hanya membalas agar tidak kau sebut dia orang y sombong,.apalgi katamu dia memang selalu memblas pesan siapa saja. Lantas apa y kau harapkan?. Sudahlah nak, dia itu mustahil kau miliki. Di mana sih rasa malumu? Dia tidak ingin menerimamu. Jika dia ingin pasti dia akan membuka jalan dan kesempatan. Lupakan dia. Masih baanyak lelaki lain. Kamu benar-benar aneh, dia sibuk dg kekasihnya dan kau malah sibuk menghayalkan dia. Tlong berhentilaah untuk menyebut namanya. Ibu sudah mulai muak mendengarnya. Semakin kau menyebutnya tiada henti ibu akan semkin tidak ingin mendengarkan ceritamu lagi. "
Sehrusnya omongan itu aku amalkan baik2, tapi entah knpa semuanya sulit bagiku. Aku memang tahu semua itu tapiiii, ya begitulah!!
Andai aku diciptakan untuk amnesia hanya tentang dirimu. Sungguh aku akan sgra mencari hati y lain untuk melabuhkan kasih,.sayangnya, jgnkan untuk menjlani dan memberikan hatiku pada y lain mencoba mengenal dan msuk ke hati y lain saja aku tidak mampu.
Aku seperti khbisan cara...
"Maafkan kbodohan anakmu y gila ini bu!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar