Aku memburuk. Memburuk karena merindukan dirimu. Memburuk kaarena menunggumu. Memburuk karena terus membayangkan kau hadir dalam hariku lalu mengukir alunan syair yang menghanyutkan. Aku memburuk terus mengharapkan sosokmu kembali kumiliki walau hanya sepenggal malam. Aku memburuk karena menanti rangkaian katamu yang meninggalkan aroma cinta meskipun itu samar-samar. Aku memburuk karena menghabiskan seluruh waktuku hanya untuk mengingat dan mengenangku. Aku memburuk karena terus menyebut namamu bahkan tanpa sedetikpun waktu berlalu yang menepiskan kau dari anganku. Aku memburuk sejak aku melihatmu kemarin waktu.
Kau, tidakkah kau kasihan kepadaku? Tidakkah kau iba melihat keadaanku? Tidakkah kau sedia menghiburku seperti dulu? Tidakkah kau ingin menolongku? Membawaku keluar dari keburukan ini? Aku meminta padamu yang tercinta. Aku memohon padamu yang teramat aku cintai. Kasihanilah aku. Bantulah aku menggapai secercah asaku meski hanya untuk sedikit waktu.
Kau tahu, aku tidak akan menuntutmu lebih. Aku tak akan memaksamu seperti dulu. Aku juga tidak akan mengajakmu pergi lalu meninggalkan yang amat kau kasihi. Aku tahu kau memang bukan untuk aku miliki. Tapi percayalah. Aku hanya ingin kau ada, ada untuk mengisi cerita di hatiku lagi. Kasihanilah aku yang tersesat ini. Sayangilah aku yang tersiksa ini. Rinduilah aku yang rinduku hanya untukmu. Temuilah aku yang tak pernah bosan menantimu meski selama penantian itu kau tak pernah mengerti atau sekedar mencoba memahamiku.
Bagaimana caranya aku memberitahumu akan semua keburukan ini?? Bagaimana caranya aku mengajakmu untuk melihat ke dalam hatiku yang sangat perih? Bagaimana caranya aku menunjukkan padamu betapa hatiku tersayat dengan sikapmu? Bagaimana caranya aku memaksamu untuk mengerti gejolak di batinku? Jangankan untuk mengerti, bahkan kau tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskannya. Kau bahkan menghalangiku untuk melepas sakit karena merindu. Kau menjadi sangat dingin. Seakan kita tidak pernah bersama.
Aku mohon, pahamilah. Apa karna sudah setahun yang lalu sehingga semua kenangan yang ada bagimu sudah tak bermakna lagi? Apa krna sudah lama tiada sehinggga bagimu sudah tak tergambarkan lagi? Apa kau benar2 sudah lupa?? Aku hanya ingin membaca kata-katamu saja. Jelaskan sedikit kepadaku mengapa kau menyiksaku sekejam ini??
Kau, izinkan aku mencium hatimu. Izinkan aku menikmati kata-katamu lagi. Izinkan aku membaca suara di hatimu. Tunjukkan padaku rasa apa yang kau punya untukku? Aku mohon. Aku hanya ingin tahu. Aku hanya ingin benar-benar kau beritahu kenyataan batinmu. Aku ingin kau menjelaaskannya.
Sejak sehari silaam, setelah aku memiliki lukisan indah itu aku menjadi semakin buruk. Lukisan kau dan aku. Sejak memandangmu sepertiga siang itu aku menjadi buas pada batinku. Aku menjadi gila karenamu. Kau tahu? Betapa air mata mengantarku tidur lalu menjemputku lagi di kala fajar?? Kau tak tahu betapa air mata mampu melembabkan selimut penghangatku. Seandainya kau lihat betapa air mata mewarnai hidung dan mataku, mungkin sedikit kasihan kau akan memelukku. Mataku bengkak, perih dan kepalaku sakit. Aku tepar karena semalam suntuk menangisi rinduku yang tak tertuang.
Betapa aku menyesali perjumpaan itu. Betapa aku menyesali persetujuanku dari moderatormu untuk ikut dalam acara menyaksikan kehebatanmu. Sungguh, jika aku tak ikut ajakkannya mungkin aku masih baik-baik saja.
Sayangnya, miliknya, kekasih halalnya. Bolehkan aku meminta sedikit ruang di sudut hatimu lagi? Bolehkan aku meminta untuk memeluk ragamu lagi?? Aku mohon mengertilah, betapa air mata tak dapat kubendung sejak pertama aku menulis ini.
Aku rinduuuu sekali. Aku rindu ingin bicara denganmu. Aku rindu ingin dekat denganmu lagi. Aku rindu. Aku rindu..Aku pilu. Aku sakit. Aku lemah dan rapuh.
Aku kesalll, menyesal dan marah. Aku mengabaikan "Kekasih Abadiku" karenamu. Aku mengabaikan-Nya di hari yang penuh berkah ini hanya karena sibuk mengingatmu. Aku meninggalkan-Nya. Aku murka kepada-Nya. Aku tidak bercinta dengan-Nya seperti malam-malam berkah yang biasanya aku lakukan sejak aku mencoba menyulap sampulku.
Demi agar dapat bersamamu aku mengorbankan rangkaian agenda yang telah aku susun. Aku lebih memilih melihatmu, menyaksikanmu dan ada untukmu. Sejak zuhur-Nya, aku hanya menyembah demi kewajiban hutang yang harus aku lunaskan, bukan menyembah seperti rindu yang biasa aku persembahkan. Aku sujud tanpa bekas. Aku berdiri tanpa mengingat-Nya. Aku bersaksi tanpa meyakini-Nya. Aku memuja tanpa keikhlasan. Semua itu karena nafsuku yang berkuasa. Ia menghasutku untuk memilihmu.
Astaqhfirullah, asarku semena-mena. Magribku kacau balau. Isyaku terdesak dan subuhku penuh penyesalan. Kini, di waktu dhuha ini bahkan aku menepis hasrat untuk menyapa-Nya. Semua ini bukanlah aku sebelum kemarin. Satu ayat indah-Nyapun tidak aku nyanyikan seperti biasanya sejak siang kemarin. Surah dan ayat rutinku setiap 5 kali penyembahan itu musnah. Zikirku melayang. Tangisanku bukan mengingat dosa dalam sjudku, melainkan mengingatmu seusai salamku. Doaku padam seakan aku tak punya permintaan selain hanya ingin bersamamu.
Ya Allah. Ampuni aku yang mengabaikan-Mu karenanya. Ampuni aku yang tidak lagi dalam kehendak baik-Mu. Aku rela mengabaikan amalan rutin yang telah menjadi daging bagiku karena membayangkannya . Aku dengan tanpa takut menghilangkan kebiasaan baik yang telah aku wajibkan pada diriku. Padahal engkau tahu Ya Allah, betapa selama ini aku tak pernah membiarkan Jumat-Mu berlalu tanpa shalawat kepada kekasih-Mu. Kau tahu betapa aku tak pernah membiarkan Al-kahfi-Mu tak berdendang di malam berkah ini. Kau tahu betapa aku rela berlama lama dalam bercinta dengan-Mu. Kau tahu betapa aku menikmati ibadah yang kusebut ritual bercinta itu telah menjadi bagian dari hidupku belakangan ini. Tapi mengapa malam tadi aku rela semua itu berlalu. Bahkan Yasinpun tidak menyentuh batinku. Al-waqiah yang telah menjadi darah y mengalir di lidahkupun tidak terlafalkan. Ar-rahmanpun tak membuatku tak menjauh dari-Mu. Aku marah Ya Allah. Aku marah pada diriku. Aku marah karena Al-mulk tidak mengantarku tidur seperti malam-malam yang sudah kulewati hampir setengah tahun ini. Aku marah karena 2 surah terkhir Al-baqarah-Mu tak terjamah di penutupan hariku kmrin dan permulaan pagiku tadi. Aku menyesali kelalaianku yanf rela mengabaikan semua ritual yang tak pernah kutinggalkan setiap 5 waktu itu.
Aku meninggalkan semua itu seolah olah aku sedang dalam dosa yang besar. Padahal aku hanya merindukan dia. Ya Allah, apa ini pertanda engkau marah ? Sehingga engkau tidak mengkehendakiku untuk bercinta dengan-Mu?? Apa kau tak ridha jika hatiku teruntuk selain kepada-Mu? Ya Allah. Sungguh, aku mohon. Hilangkanlah semua hasrat di hatiku selain hanya untuk dekat dengan-Mu. Aku tahu engkau murka. Maka, aku mohon. Sudah berulang kali aku meminta kepada-Mu. Jika rasa untuknya tidak baik untukku hilangkanlah. Aku ikhlas ia musnah di hatiku mesti terkadang aku tak ingin hidupku tanpa ada dia di benakku. Tapi aku juga tidak ingin aku melewati hariku tanpa bercinta dengan-Mu. Kaulah segaalanya Ya Allah. Sungguh, hilangkanlah rindu gila ini. Karena sampai kapanpun ia tak akan dapat menjadi milikku. Dia tidak menginginkanku. Buatlah aku sadar akan kenyataan itu. Buatlah aku malu pada sikapnya yang selalu menolakku secara nyata.Buatlah aku menjauh meski tidak untuk membencinya.
Sungguh, jiwaku sangat hancur. Hatiku sakit. Batinku merintih. Kesedihan membuatku menjadi orang yang pesimis. Penolakannya membuat aku menjadi tidak percaya diri. Itu bukanlah aku yang dulu. Aku ingin menjadi diriku. Bukan diri yang menggilai suami orang.
Sungguh, meski aku masih ada kesempatan setengah hari lagi di hari yang berkah ini. Seakan aku menolak untuk menjadi diriku yang sudah mencoba dekat dengan-Nya dengan penuh ketaatan dan amal shalih seperti biasanya. Mengapa engkau biarkan syaitan menggodaku sedemkian ?? Aku ingin bangkit dan kembali paada-Mu. Tapi aku seperti ingin memalingkan asaku itu.
Kamu, "H", Pemilik hatiku yang hancur. Tidakkah kau kasihan melihat aku yang memburuk ini?? Seandainya kau ada. Aku juga tidak tahu seperti apa akan jadinya diriku. Aku tahu, Allah telah merancang semuanya dengan sempurna. Semoga aku mampu menepis gejolak yang buruk ini. Semoga aku kuat dan mampu melawan rindu ini.
Foto kita telah menyita setengah malamku hanya untuk memandang wajahmu yang bersanding dengan wajahku.
#Bedah, 09.16...
Jumat, 24 Februari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar