Sepuluh tahun sudah aku seorang diri
sejak bencana gelombang hitam yang menyisakan tangisan dan duka. Hari ini,di sudut
kamarku yang kecil dan sepi, aku termenung menghayati nasibku yang malang. Di luar,hujan
semakin deras dan berteriak dengan kencang, menangisi bumi
yang telah lama gersang, menderai tanpa henti. Keadaan semakin
mencengkramku. Percikan hujan lebat di atap kamarku, membuat hati
ingin menjerit. Seketika aku menjadi takut. Ketakutanku itu jelas, gemuruh langit
mengingatkanku pada suasana pagi yang bersejara. Tubuhku langsung
menciut. Aku benamkan kepalaku dalam tundukan air mata duka
dan kerinduan. Kudekap erat-erat tubuh mungilku
yang kering.
Di balik jendela, aku melihat
langit semakin gelap. Awan telah menutupi keindahannya, seakan alampun
ikut bersedih menyaksikanku. Cuaca semakin buruk. Genangan emas penuhi permada coklat. Melihat air yang
tinggi di setiap sudut kota, banjir yang sedang berkuasa, seakan mengajakku
untuk menjelajahi
kisah sepuluh tahun silam, meski berbeda
jenisnya. Bagiku dulu dan kini tetaplah deraian. Tsunami 10 tahun yang lalu, dan kini banjir
kembali melanda. Aku menjadi lemah dengan alamku. Kenangan duka telah datang dengan seram. Mengajakku berpilu. Keadaan ini menghantuiku pada suasana panik sepuluh
tahun yang lalu. Kenangan pahit yang masih sangat jelas terekam
di imajinasiku. Aku masih mampu mengingat ekspresiku saat itu, semua masih dapat aku bayangkan. Sepuluh tahun, benar-benar bilangan hitam yang
menyayat batinku. Tak terasa, kini sudah sepuluh
tahun kepergian orang yang paling aku cintai.
Pagi baru saja dimulai, semua orang masih
dengan aktifitas ringannya. Aku tidak lupa, saat itu aku
berusia sepuluh tahun, sangat belia bukan?. Aku, abang-abangku dan
juga adikku, kami sedang
menikmati sarapan pagi di hari libur, sedangkan ibu dan ayah tak luput
dengan kegiatan rutin mereka. Aku berasal dari keluarga yang tidak
bergelimangan harta. Hidup kami sangat sederhana. Tidak ada kemegahan dan kemewahan intan permata. Akan tetapi, keluargaku tak
pernah kekurangan cinta dan kasih saying. Kami sangatlah akur, rukun dan damai. Kami memiliki orang tua yang sangat mengasihi dan
menyayangi anak-anaknya. Ibu yang sedang memetik cabai di kebun
belakang,tiba-tiba terkejut dan berteriak.
"Laailaahaillaulah, allahuakbar, hariMu telah
tiba, kuasaMu ya allah, allahu
akbar".
Ayah yang sedang
sibuk dengan ternaknya, berlari kencang dan menarik kami ke
luar. Adikku yang
bungsu menangis ketakutan. Akupun menyusulnya, tapi ayah dan ibu
menenangkan kami.
"Jangan
takut anakku, kita akan selalu
bersama, kita di sini
selamanya, berpeganganlah, allah hanya
sedang menegur kita yang mungkin lupa kepada-Nya".
Itulah gempa yang
pertama sekali aku rasakan begitu dahsyat. Goncangannya sangat hebat. Seakan bumi hanya sebuah gubuk reyot yang
tergoyangkan. Aku menjadi
pusing. Kedua abangku memelukku dengan erat. Rumah kami seolah
akan hancur dan roboh. Semua barang berjatuhan. Pintu-pintu saling berpukulan ,tampaklah istana
gubuk kami saling berpisah antara dinding dan atapnya. Tiang -tiang mulai patah. Gubuk kami menjadi tak berdaya untuk
berdiri tegak. Mungkin masa jenuh telah menyapa mereka. Mereka telah bosan bersama, akhirnya mereka
bercerai.
Gemuruh langit
dan bumi mulai heboh. Hanya beberapa menit setelah gempa berhenti aman, orang-orang mulai berlarian dengan
kencang seiring dengan binatang yang juga takut layaknya para insan, mereka lari tak
menentu. Mereka seakan paham akan bumi yang menangis marah. Meski pijakan
kaki mereka yang sedang menyelamatkan diri masih sangat jauh dari pandangan
mata, namun suaranya
sudah jelas terdengar seakan tepat di hadapanku saat itu.
"Air laut
naik" kata seorang laki-laki yang melewati
rumah kami sambil menggendong anaknya.
"Ayahhhhhh.........!!"
Ibu seperti
melihat ayah dengan raut gelisah dan takut, seperti meminta
ayah untuk berbuat sesuatu. Ayahpun langsung paham
dengan panggilan yang penuh makna itu. Mereka benar-benar sejiwa dan sehati, itulah
keterikatan batin dalam cinta dan kasih sebagai orang tua yang bertanggung
jawab. Ayah segera memegang tangan abang sulung dan adik
bungsuku. Kami berlari jauh untuk mencari perlindungan dan
ketinggian.
Seperti ada
malaikat yang memberi kecerahan, seorang bapak yang membawa becak datang dengan
sendirinya dan langsung menolong kami.
"Naiklah"
Pinta sang bapak tua yang berhati mulia itu.
Adikku mendahului
kami. Masih jelas kulihat senyum di wajahnya, dan ternyata itulah senyuman
terakhir yang bisa aku nikmati.
Di sepanjang
perjalanan, ibu tak
cukup-cukup berpesan dan menghibur kami agar tenang.
"Ayah, anak-anak ibu, kalian jangan
panik dan takut ya? Kita akan sama-sama di sini. Kita akan
selalu bersama. Elfi putri ibu, jangan menangis
ya saying. Kita tidak akan berpisah. Ini hanya musibah dan teguran sang ilahi."
Aku memperhatikan sekitarku. Semua orang berusaha menyelamatkan diri. Banyak anak kecil yang terjatuh dan nenek-nenek tua
yang tak berdaya tertinggal di belakang. Banyak kendaraan yang berdesakan dan bahkan
kecelakaanpun terjadi. Seruan azan terus berkumandang dan
bersahutan di mana-mana.Ibu terus saja berpesan.
"Apapun yang
terjadi, kita harus dalam
satu genggaman. Jangan berpencar. Eratkan pegangan kalian masing-masing. Ibu sangat bahagia mendapati anugerah titipan
ilahi, yaitu kalian
anak-anak ibu yang manis dan baik budi. Meski ibu tau kita hanya sementara di dunia ibu, tapi ibu sangat
bersyukur pernah memiliki dan hidup bersama kalian anak-anakku. Kita harus selamanya bersama. Ayah ,abang, kakak dan adik, maafkanlah ibu
jika ibu belum sempurna merawat kalian, ibu mencintai
kalian semua."
"Ibu, berhentilah
menangis. Ibu adalah wanita terhebat kami. Ibu sangat sempurna. Kami sangat bahagia pernah menghabiskan waktu
bersamamu, iya kan nak?" ungkap
ayah seraya memeluk ibu dan mencium kami semua.
Entah kenapa, tiba-tiba aku
berbicara aneh secara spontan.
"Kakak tidak
ingin kehilangan kalian semua. Jika memang ada nyawa
yan harus kembali. Semoga itu adalah kakak. Kakak ikhlas jika jasad kakak telah tiada, yang penting
kalian tidak meninggalkan kakak seorang diri di sini."
Aku menangis
tersedu-sedu. Aku adalah
putri satu-satunya ayah dan ibu. Hanya ada aku dan ibulah bidadari tercantik di
keluarga kecil kami.
"Kita akan
selamanya bersama. Tidak akan ada yang pergi anakku." itulah
kalimat yang berulang kali ibu katakana. Ibu mencium ubun-ubun dan rambutku yang panjang
dan mengusap keningku.
Tanpa terasa, gelombang hitam
yang setinggi pepohonan ikut berlari mengejar di belakang. Gulungannya sangat pekat dan hitam, tampak kotor dan mengerikan. Gelombang yang terlihat seperti mulut naga yang menerka segala yang ada di depannya. Dengan mata yang
jelas, aku melihat
banyak insan yang tergulung gelombang dahsyat itu. Ia dengan marah memakan semua yang ada di
hadapannya. Hatiku seakan remuk
dan hancur berpuing perih. Aku benar-benar takut. Aku bergetar. Bagiku dunia sudah berakhir kala itu. Aku pasrah. Penglihatanku menjadi gelap gulita. Aku benar-benar lemah
tak lagi berdaya. Aku merasakan perih dan pahit di tenggorokanku. Aku seolah mati
dalam mimpi yang aku khayalkan kemarin.
Aku tersentak
saat ibu menarik tanganku dengan kencang, ternyata
gelombang hitam pekat itu telah menelan kami dengan sangat ganas. Kami terlibat dan ikut bermain dalam luapan air
laut perusak bumi itu. Arusnya sangat kuat. Pukulan demi pukulan menghantam tubuh
kami. Kami sudah tak
mampu lagi untuk bangkit dari tindasan dan timpaan segala benda yang ada. Kami dihantam dengan kuat.
Saat itu, kami masih dalam
satu pegangan. Tak ada yang terlepas. Sejenak ku berpikir, inilah kekuatan
cinta yang selalu menyatukan walau dalam perang yang tak berhujung. Kebersamaan mampu menenangkan. Aku yakin, cinta seorang ibu
pasti akan mengikat satu dengan yang lain. Kala itu aku
menjadi tenang,rasa takutku telah sirna,semua sentuhan orang yang kusayangi
masih dapat kurasakan dengan jelas. Kami bagaikan ikan di lautan tenang, berenang dengan
liar, yang sesekali
muncul kepermukaan yang telah hancur tiada berbentuk lagi, lalu tenggelam
lagi bagai batu yang terlempar. Penglihatan terakhirku adalah ibu. Aku melihat wajah
ibu yang lesu. Matanya memerah. Rambutnya berantakan. Gelombang kembali
menghantam kami berulang kali. Pegangan kami masih bersatu, namun ketika
gelombang yang terus silih berganti, pegangan ibu melemah. Ibu dan adik
bunguku terpisah dalam gumpalan bulutan pasir yang berlumpur. Aku menyadari hal itu. Aku merasa
seorang diri tanpa satu tanganpun yang memegangku. Aku merasakan
tubuhku tertusuk dan teriris runcingan tajam. Perih sekali, sakitnya teramat
sakit. Rasanya aku ingin
menyerah. Pagar kawat
menahanku. Aku tersangkut karenanya. Aku mencoba
melepaskan diri, tapi dayaku melemah. Aku ingin pasrah, tapi aku teringat
pesan ibu "kita harus selamanya bersama." Itulah kekuatanku. Aku ingin berjumpa
lagi dengan mereka semua. Aku mencoba melepaskan diri, tapi lilitan
rambutku yang panjang membuat aku tersiksa dan terperangkap. Aku semakin lemah. Semangatkupun memuncak.
Setelah itu semunya buram dan hampa. Aku lupa apa yang terjadi pada diriku sendiri.
Saat ku tersadar. Aku telah berada dalam pangkuan seorang perempuan
asing. wajahnya tak
kukenali. Ialah yang menyelamatkanku.
Ternyata dia
mendapatiku dalam keadaan pingsan dengan tubuh terjatuh ke dalam sebuah sumur.
"Alhamdulillah
rambutmu menyelamatkanmu nak, engkau tersangkut di pagar dengan tubuh yang dingin
dan pucat. Ibu pikir kamu sudah
tiada, tapi ternyata
kuasa allah sangat indah." Sang ibu bercerita dengan penuh kesedihan.
"Ayah, ibu, abang, adik, mereka
di......?" kalimatku tak selesai, sang ibu mencium dan memelukku sembari
berkata " kamu hanya seorang diri saat itu"
Jangan takut, ibu akan ada di
sini untukmu."
Apa yang sudah terjadi ya allah?
Aku benar-benar tak
kuat melihat keadaan bumi yang terporak-poranda hancur. Aku ingin menangis melihat tanah yang kosong tanpa
sebatang pohonpun. Tak ada kehidupan di sana. Bahkan sehelai daunpun tak kutemui di sana. Seikat rumputpun juga tak ku dapati. Banyak bangkai binatang yang sudah gembung di
sepanjang jalan. Rumah -rumah tinggallah
semennya yang rata.
Aku benar-benar
takut melihat lumpur yang tinggi, sampah bertaburan, semuanya berwarna
emas gersang. Angin - angin terasa
begitu mengiris kulitku. Inikah teguran-Mu ya allah?
Seminggu setelah bencana itu, entah bagaimana
caranya. Allah mempertemukan aku dengan ayahku yang sedang dirawat
di rumah sakit, sama sepertiku. Paru-paru ayah
terinfeksi pasir kotor.
"Ibu, abang-abang dan
adikmu sudah pergi kak. Mereka sudah tiada". Itulah kalimat
terburuk yang sesungguh tak ingin kudengar. Aku rapuh. Aku bagai kertas diterbangkan angin. Aku hampa dalam tangisanku sendiri.
Aku ikhlas. Takdir allah ajal mereka telah tiba. Aku sangat
bersyukur sebab ayah masih bersamaku. Tapi apa yang
terjadi? Tiga hari setelah
itu, dunia kembali
menghukumku. Ayah menyusul
mereka semua. Beliau meninggalkanku di
rumah sakit dengan ibu angkatku.
Mereka telah meninggalkanku
seorang diri di sini. Aku tak tau suratanku. Aku paham makna kalimat
yang selalu ibu ucapkan. “Kita akan selalu
bersama".
Iya, mereka memang tetap bersama meski tak
hidup bersama di dunia ini, tapi mereka hidup bersama di alam yang
abadi. Mengapa mereka
tak mengajakku?
Takdirku berbeda, inilah garis
hidupku. Kini aku hanya gadis sebatang kara. Aku bersyukur
allah kirimkan seorang ibu angkat yang memberiku cinta dan kasih layaknya orang
tua kandungku sendiri.
Kini, sudah sepuluh
tahun sejak kepergian mereka. Aku memang sudah terbiasa. Akan tetapi, hal yang paling
kubenci adalah setiap kali aku menuliskan riwayat hidupku. Lembaran identitas keluargaku selalu kosong. Kosong karna
hanya ada nama dengan gelar abadi yang telah megikuti nama mereka. Gelar yang sangat
membunuhku dengan perlahan. Gelar duka yang tak kuduga. Almarhum dan almarhumah, itulah yang kini
sangat menyayat batinku. Sangat menyakitkan. Aku selalu akan mati dengan nama-nama mereka.
Pintaku dalam sujud pada-Nya. Aku ingin dipersatukan kembali dengan mereka. Aku rindu kehidupan bahagia yang pernah ku rasakan
dulu. Aku ingin nasihat
seorang ayah. Aku butuh sentuhan belaian sang ibu tercinta. Aku ingin bermain lebih lama lagi dengan
abang-abang dan adikku. Pertemukanlah aku dengan mereka ya
allah. Walaupun hanya dalam mimpi. Semoga mereka
tenang di sisi-Mu. Aku berharap,mereka bahagia dalam cinta dan
surga-Mu.
Cerpen ini sudah pernah
dimuat surat kabar harian “ RAKYAT ACEH”.
Karya Elfiyani
Tertulis Untuknya
(Pinokio)