Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar dalam penantian sebuah rasa. Sejak dua tahun yang lalu aku memutuskan untuk tidak lagi memberikan kesempatan kepada lelaki yang menginginkanku untuk menjadi istrinya. Mungkin sebagian orang memungkiri adanya cinta pada pandangan pertama, tapi aku percaya karna yang sering menimpaku justru cinta pada awal perjumpaan. Jarang sekali aku jatuh cinta kepada orang terlebih dahulu dekat tanpa ada cinta lalu bersemi hati untuk saling memiliki. Bisa dikatakan jrang, sayangnya setiap kali aku dicintai atau jatuh cinta pada pandangan pertama tidak lama cinta itu pasti akan kandas.
Cintaku kandas karna aku terlalu sering menimbang dan membedakan orang yang mencintaiku dengan org yang sempurna y aku inginkan. Hatiku tidaklh pernah tetap pada pilihannya.
Terkadang aku yang betah malah dia yang memilih pergi karna sikapku yang acuh tak acuh dengan pasangan. Aku tidak tahu mengapa 3 tahun belakangan ini aku menjadi seperti orang yang tidak memiliki rasa untuk berkasih dan bermesraan dg pasangan. Yang kutahu hanya rindu y ada hrus dilpaskan. Entah apa y ditafsirkan orang akan diriku itu aku sudah tidak menghiraunya.
Kembali terkenang pada seorang pria yang sangat membuatku terkesan. Kami berkenlan dalam sebuah perjalanan. Dengan berbagai cerita yang biasanya dituang dalam bagian orientasi oleh seorang penulis membuatku tidak perlu lagi menjlaskannya panjang lebar di sini seperti apa tahap perkenalan kami.
Intinya, pada saat pertama x bertemu pria itu sudah menunjukkan rasa tertariknya kepadaku. Akupun mrasa hal yang sama. Cirinya yang sudah tampak berusia matang membuatku menduga bahwa dia bukanlah seorang bujangan lagi. Ternyata dia seorang suami beranak satu. Tidak tanggung2, saat berkenalan denganku dia mengaku anaknya sudah kelas 6 SD.
Pertemuan kami hanya sekali selama dua tahun ini. Hingga akhirnya pada 3-3-2017 kami kembali bertemu dg alasan aku sudah sangat simpati pada sikap dan usahanya yang hampir setiap saat menghubungiku ingin bertemu denganku walau hanya sesaat. Dia menghubungiku sejak pertemuan pertama hampir setiap hari.
Mula2nya aku merasa nyaman dan memberinya ksempaatan untuk dekat tapi hanya via telpon. Dia mematuhi semua aturan y kubentuk. Setiap dia menghubungiku rasa bosan menyelinap di sela-sela rindu dan bimbangku. Kebosanan itu membuatnya lelah menghadapi sikapku yang terlalu dingin padanya hingga akhirnya dg rasa tidak ingin meninggalkanku meski tampak aku menolaknya dia tetap berusaha menghubungiku walau hanya dalam seminggu sekali.
Waktu terus berjalan. Setiap telpon darinya selalu aku tanggapi setngah hati hingga akhirnya dia tidak ingin menggangguku yang setia hari beralasan sibuk kuliah. Akhirnya dia hnya mengubungiku sebulan sekali.
Dia selalu setia menelponku walaupun setiap usahanya tidak pernah berbuah manis. Tiba-tiba dg rasa iba aku mencoba memberinya ksemptan untuk bertemu setelah perjumpaan pertama di awal perkenalan itu.
Suatu yang sudah kuprediksikan. Setelah bertemu dia akan semkin jatuh hati kpadaku ternyata tidak meleset. Hal yang tidak ingin kudengar dari pria yang satu ini ternyata harus kudengrkan juga.
"Udah lama sekali ya kita gk jumpa." Setelah obrolan biasa mengawali makan malam kami dia mencoba untuk mngenang masa kami berdua. Aku dan dia tidak pernah pacaran, tapi baginya aku adalah kekasih yang selalu dia tunggu meskipun aky tak pernah memperhatikannya atau membalas usahanya.
"Iya udh setahun lebih" Jawabku
"Mana ada, udh hmpir dua tahun".
Berbagai pertanyaan dia ajukan seperti "Kenapa gk pernah mau ditelpon olehku?? Apa aku terlalu menggangggu?? Apa y kamu rasakan saat berdua dgku, dan berbagai pertanyaan lainnya y sangat sulit untuk aku jawab.
Tibalah pada inti yang membuatku tidak tahu harus menjawab apa.
"Kamu percayakan betapa aku setia menunggumu? Betapa aku sungguh dan serius ingin bersamamu. Betapa aku blum melupakanmu. Mungkin bgi orang lain perjumpaan sekali itu tidaklah berarti. Tapi bagiku itu lebih dari ckup. Sepertinya kamu semaakin beda. " Rayuannya muncul, sungguh saat mendengar semua uraiannya aku bukan fokus memikirkan jawaban untuknya melainkan sibuk menghayal betapa kepahitannya menjadi pengalamanku juga dalam mencintai seorang pria lain y bukan dia. Aku menghayal seandainya pria y di dpanku adalah dia yang selama ini aku rindu dan harapkan pastilah hidupku akan trasa smpurna.
"Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu menjadi milikku??" Tanyanya yang membuatku berhenti menikmati makanan y ada di dpanku.
"Abang sudah memiliki orang yang halal yang harus abg bahgiakan, knpa masih terus berpikir untuk bahagia dg orang yang bukan siapa2??" Jwabku mencoba mencuri secuil kalimat dari pria yang aku cintai dalam anganku.
" O bukan siapa2, jdi keberadaanku selama ini bukanlah apa-apa? Iya??" Tanyanya dg khas Medannya.
"Yah kan emg gk ada apa2, Abang ingatkan pesan dulu? Jangan mengajakku terbang, angin di langit terlalu berbadai. Abg pahamkan itu mustahil?" Abg sudah punya keluarga sendri.
"Kamu orang yang beragama, shrusnya kamu tahu tidak ada larangankan bagi laki2 untuk memiliki istri lebih dari satu asal dia mampu?? Berapa kali sudah aku jelaskan bahwa aku mampu untuk membimbing kalian berdua." Jawabnya dg sedikit kecewa
"Tapi orang tuaku tidak ingin hal itu terjadi. Dia ingin aku menikah dengan orang yang belum pernah berkeluarga. Lagipun. Apa mungkin kita akan cocok?? Jarak usia kitapun sangat jauh, 15 tahun. " Aku mencoba menepis rasanya dengan mengarang. Sesungguhnya orang tuaku tidak pernah menuntutku harus seperti pernyataanku di atas. Orang tuaku hanya ingin aku mndpat suami yang beragama, baik akhlaknya, berkerja yang mapan dan rapi. Soal umur bukanlah masalah, toh ibu dan ayahku juga menikah di usia yang sangat jauh berbeda. Aku membayangkan seandainya kalimat itu keluar dari bibir lelaki y selalu kusebut stiap wktuku maka aku tidak akan mnunggu sampai kalimatnya hbis aku akan mencoba mencari jalan keluarnya dg memberi jwaban iya.
Sayangnya pria y di dpanku buknlah dia..
" Aku ingin menikah lagi. Kamu adalah permpuan y aku pilih sejak dulu. Maukah engkau menerimaku sebagai suamimu dg statusku yang sudah kau tahu? Aku ingin melamarmu. Kapan aku boleh ke rumah??" Dia bertnya dg penuh rasa prcya diri yang membuatku tidak berani mngatakan tidak, tidak tega.tepatnya.
" Hahahaha,.menikah?? Lamar?? Jangan dululah, aku bahkan blum tepikir akan hal ini.bahkan sekalipuk aku tidak menduga ini akan trjdi."
Jwabku
"Kenapa?? Kamu gak mau sama aku?? Aku terlalu tua? Terlalu besar untuk mendampingi kamu yang kecil?? " dia brtnya dg kesan seakan dia tak akan mampu menrima jwabanku jika itu kujwab iya'
"Entahlah, akupun bingung. " jwabku singkat. Kita liat aja ke dpan. "
Akhirnya dg obrolan lainnya perjumpaan itupun berakhir.
Jujur, bersamanya yang kubayangkan adalah dia. Dia y aku rindu setiap saat. Seandainya dia y datang sungguh aku tidak akan ragu sama sekali, dg berni aku akan menjlaskannya kpda kluargaku y sudah mngenalnya lewat ceritaku. Sayangnya bukan shingga aku menjdi galau.
Pasalnya aku ingin sekali mnikah, tpi selalu disapa oleh orang yang tidak menarik hatiku.
Akhirnya aku hanya mampu menunda pertanyyannya "Beri aku waktu 2 bulan untuk lebih mengenalmu. Beri aku waktu untk membrnikan.diri.bertanya kpada ibuku y sudah sangat ingin kuberi menantu. "
Akhirnya hanya ini y mampu kuceritakan,.ka.teungeut...
Byeee....
Intinya aku galau,.apa y hrus aku lakukan???
Dia tampan, rapi, tinggi besar, dan manis dg matanya y sipit dan bibirnya y kecil. Dia gagah Bahkan terlihat lebih menantang dari pada pria y selalu kurindukan itu. Memang priaa ini lebih tua 3 tahun dri dia. Dia yang kurindu lebih membuatku percaya diri jika bersamanya krna sikap dan tampilannya y masih terlihat seperti mhasiswa tua di program pascasarjana usia 26-27 thunan.
Tapi ya begtulah....
Status merka berbeda, y satu seorang pendidik yang satunya seorang PU.
Bukan materi y kupertimbangkan,.jika melihat itu lelaki ini lebih mapan dari dia. Tapi hatiku sepnuhnya milik lelaki pendidik itu yang juga sudah beristri dan beranak dua.
Apa y hrus aku lakukan?? Mungkinkah aku menerima suami org y jauh umurnya driku? Apa pendpat org2 kpdaku jika aku menrimanya?? Bodohkah aku y mau jdi istri kedua??
Bagaimana keluargaku?? Krna dia sudah tampak sangat matang. Tapi seandainya dia y kucinta melakukan hal ini. Pertimbnganku pasti akan berbeda.
Entahlah....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar