Sabtu, 18 Maret 2017

Mungkin

Mungkin sampai kapanpun kemungkinan itu memang tidak akan menjadi mungkin.  Tapi aku selalu yakin bahwa ketidakmungkinan itu pasti akan menjadi mungkin walau nantinya mungkin aku harus memungkinkan hatiku untuk bertahan dengan luka.





#15/3/2017 ^_^ MySoulisH

Jumat, 17 Maret 2017

Suami Orang

Mencintai suami orang adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal.  Cintanya saja sudah salah maka akan sangat wajar apapun yang kita perbuat akaan tetap selalu salah. 

Setiap saat aku belajar untuk tidak melakukan hal yang tidak engkau sukai.  Aku memaksa diri agar berhati hati dg segala tindakan termasuk dalam hal mengirimmu pesan. 

Aku selalu menunggu pemberitahuan online di akun whatsappmu.  Aku rela menunggu berpuluh puluh menit bahkan sampai berjam sekalipun hanya untuk membuka dan menutup akunmu.  Tujuannya adalah agar aku dapat menyapamu saat kau sedang membuka whatsappmu.  Hal ini aku lakukan agar pesanku tidak masuk di waktu yang salah misal aku takut jika kau sedang tidak online tapi aku mengirimmu pesan aku takut pesan itu akan dibaca oleh istrimu.  Jujur aku tak pernah membayangkan jika saat akunmu online dan hp mu sedang di tangan istrimu karena sejak pertama kita dekat aku tidak pernah ditegur oleh istrimu.  Singkatnya aku mengambil kesimpulan bahwa hpmu jarang dipegang  oleh sang istri. 

Terkadang aku berharap agar sesekali istrimu yang membuka pesanku lalu membalasnya.  Bukan tujuan ingin menghancurkan keluargamu justru aku ingin kita sama-sama selamat khususnya dalam hal akhirat.  Aku berharap istrimu tau keberadaanku agar dia dapat menolongku.  Aku ingin dia mengetahui kesengsaraanku menahan diri karena tidak dapat memilikimu.  Aku ingin bercerita banyak kepadanya agar ia mengerti dan memahami posisiku ya walau nanti aku tahu ketika kami saling bercerita akan ada hati yang patah dan air mata akan membasahi patahan itu.  Aku juga tahu bahwa dia juga akan memintaku untuk memahami lukanya lalu membaca hatinya.  Tapi itulah intinya aku ingin berkenalan dengannya dg harapan masalah kita akan terselesaikan dengan baik.

Kau bilang aku seperti anak kecil.  Oke aku mengaku katamu benar jika dilihat dari caraku yang tak pernah henti menghubungimu.  Aku selalu ingin mengobrol dg mu shingga keinginan atas dasar rindu itu memang pantas kau katakan buruk.  Tapi tidakkah engkau sadar betapa aku telah berusah menjadi dewasa dalam mencintaimu??  Kedewasaan itu terbukti dari caraku yang tidak pernah berusha mengusik istrimu meski setiap hari aku memeriksa media sosialnya dan juga keluarganya. 

Jika aku tidak dewasa status keharmonisan keluargamu sudah berubah menjadi petaka sejak dulu.  Aku bisa saja menghancurkanmu dengan berbagai bukti yang aku punya.  Tapi kau tahu bukan,  betapa aku baik dalam menahan diri.  Aku sangat menjagamu.  Aku tidak ingin hidupmu berantakan meski kau bahkan tak pernah memikirkan keadaanku yang sakit karena menginginkanmu yang mustahil untuk aku miliki.  Kenapa aku tidak melakukan semua itu?  Jawabannya kau pasti tahu.  Aku mencintaimu.  Aku menginginkanmu.  Aku merindukanmu dan aku ingin selalu dekat denganmu bukan untuk merebutmu.  Aku hanya ingin memilikimu meski kutahu mendapatkanmu tidak akan ada caranya jika bukan kau sendri yang menerimaku. 

Sayang,  semua obrolan kita sejak awal masih rapi tersimpan di arsipku.  Semua tentangmu masih kusimpan.  Jika aku mau aku bisa saja "bercerita" banyak kepada istrimu dan menunjukkan beberpa bukti yang memang akan diakui kebenrannya oleh dia.  Tapi sekali lagi aku tegaskan bukan itu tujuanku.  Jikapun suatu saat dia tahu aku berharap kami bisa akrab dan berteman dengan baik.  Kau tahu kan?  Aku hanya ingin memilikimu saat ia tidak di sisimu.  Memelikimu dalam sesaatpun sudah sngat berharga bagiku.  Begitulah dalamnya cintaku padamu.

Katamu kau tidak mencintaiku.  Semua yang pernah kita lewati hanyalh buing kenangan yang disapa oleh nafsu. Jika benar,  kenapa  aku tidak melihat penolakan darimu ketika kau di sisiku?  Itukah hasutan syaitan?  Mengapa engkau kalah dengannya? Bukankah cinta yang agung tak akan dilemahkan oleh syaitan?  Lantas mengapa engkau menunjukkanku jalan untuk mengusik bahteramu? 

Kau menolakku setelah banyak hal yang kita lewati. Bukankah itu sebuah keegoisan?  Bukankah itu sebuah tindakan tidak bisa menghargai?  Bukankah Itu pertanda kebosanan darimu?? 

Karena semua yang membuatmu ingin tahu mungkin sudah kau ketahui sehingga mudah bagimu untuk mengusirku padahal kau tahu betapa kekuatan cinta akan mengakari semua ucapan dan tindakan.

Seandainya kau memang ingin setia dan tidak menyakitinya kau harus benar-benar membuatku pergi darimu.  Sayangnya selama ini aku menilai kau hanya belagu ketika kita berjauhan sedangkan saat bersama kau melahirkan sebuah rasa nyaman yang mungkin engkau sendiri tidak menyadarinya. 

Kau sudah dewasa sedangkan katamu aku sangat jauh dri kata itu.  Marilah kita berpikir jaalan apa yang harus kita lalui ke dpan dan coba kita mengenang lalu instropeksi diri sudah seperti apa sudah sikap dan cara kita saat bersama. 

Ketahuilah aku benar2  sangat mencintaimu meski kita tidak akan pernah saling mencintai dengan dalam. 

Rabu, 15 Maret 2017

Rintik Hujan Yang Damai

Terimakasih banyak atas kerinduan yang kau izinkan untuk bersemayam di ujung sunyi yang indah.  Terimakasih atas pelabuhan yang aku singgahi.  Kau memberiku kasih yang telah lama aku hajatkan. 

Dirinya telah berhasil aku perankan.  Impianku hanya menggapai mimpi bersamamu karena kutahu kau dan aku hanya akan berpaut dalam syahdu yang maya.  Kebahagian yang melambung tinggi seiring sentuhan butiran hujan yang menyapa teduhan bahtera yang tengah berlayar. 

Tak ada kata selain cinta yang bertaburan di taman hati yang tengah masyuk dalam kemesraan di kesunyian itu. Kau memberiku b
Jdi dia di istabajya adalahbkbjgaian y tak trtandingkan.

Senin, 13 Maret 2017

Whatsapp

Rinduuuuu...
Berbagai rasa muncul di hati. Ingin menyapa tapi segan.  Hanya mampu mengintipmu melalui Whatsapp.  Setiap aku melihat akunmu kau selalu sedang online atau baru beberapa menit yang lalu. Rasanya inginn sekali aku mengirimmu pesan tapi aku kucoba menepiskan segala rasa.

Minggu, 12 Maret 2017

Kesepakatan Kita

Kesepakatan yang kita jalani benar-benar membuatku terluka dan tersiksa.  Aku menderita karna tak memiliki hak apapun.  Aku sakit karna terlalu mencintaimu sedangkan kau mungkin tak  pernah terpikir untuk kita saling mencintai.  Orang yang mencintai tak pernah punya alasan kenapa ia selalu ingin bersama dan ingin selalu memberi kabar.  Ia akan selalu ingin dekat maka ketika kau menjwab "Ada apa" ketika dia menyapa itu adalah sebuah kesakitan.  Apa kau pikir orang y merindukan itu ada sesuatu selain hanya ingin bersma.  Shrusnya kau jgn mnjwab itu.  Apa kau benar-benar tidak bisa memblas dg sedikit merayu atau sekadar berusha ramah? 

Maafkan aku jika terkesan menuntutmu.  Aku tidak menuntut krna kau telah memintaku untuk itu.  Aku hanya bertanya.  Smga kau mengerti jika hatimu terketuk untuk membaca tulisan ini.

Sikapmu

Setiap kita bertemu kita seakan seperti sepasang kekasih yang selalu akur dan tak pernah ribut tetapi setelah perjumpaan berakhir kita menjadi seperti dua orang yang selalu bermusuhan.  Kau selalu menciptakan jarak dan batas yang sangat sulit untuk aku lalui. Kau sulit sekali kuterka. Sikapmu yang berubah ubah semakin menyiksaku.  Membuatku merasa sangat hina dan bodoh.  Aku malu.  Kau membuatku semakin pesimis. 
Lucu. Ketika berjumpa di waktu yang kita janjikan kau begitu akrab dan ramah kepadaku. Kau tampak senang bersamaku tapi kenapa setelah itu semuanya selalu berubah.  Tak sampai sehari kau akan kembali jadi dirimu.  Sikapmu selalu kupertanyakan.  Siapa sebenarnya yang bersamaku kemarin?  

Mengapa aku selalulah sedangkan kehadiranku setelah kita berjumpa benar-benar sebuaah usaha yang aku lakukan agar kita semakin dekat.  Apalah daya jika setiap usahaku selalu terkesan memaksa dan mengganggumu. 

Sejak pertemuan terakhir itu pada 7 Maret 2017 tepatnya malam rabu aku yang sudah terbiasa memikirkanmu tanpa henti menjadi semakin gila terhadapmu.  Aku membayaangkanmu hampir seluruh waktuku.  Bukan saat aku sendiri saja bayangmu menyapaku tapi jga di keramain kau sulit kulupa. 

Aku hanya ingin kita baik-baik saja. Jikapun tidak semakin dekat setidaknya jangan semakin jauh.  Tapi lihatlah sikapmu.  Kau yang meminta agar aku bertemu meski itu atas keinginanku.  Aku mengucapkan bnyak terimksih atas kesempatan berharga yang indah itu.  Terimksih atas cerita yang kau izinkan untuk aku lukis dan kusimpan dalam bingkai hatiku yang pilu.  Kenangan itu tidak akan mudah kulupa meski kelak saat seseorang akan menggantikanmu mungkin kenangan itu akan hambar dan pudar.  Percayalah saat ini tidak ada sedikit kemampuankupun untuk menggantikanmu dengan yang lain walau hanya sekadar ingin melupa dan mengusirmu dari hati. 

Kesepakatan yang telah kita sepakati membuat aku semakin terluka.  Katamu kau akan memberiku kesempatan seperti yang aku mau asal aku tidak memaksamu harus menjadikan aku orang yang spesial.  Kau juga menegaskan dengan tanpa iba bahwa hatimu tak akan pernah terbagi selain hanya untuknya yang telah memilikimu.  Kau benar-benar menutup pintu untuk aku mampu masuk ke dalam hatimu. Katamu bukan sebuah kekejaman tapi demi kebaikan semua karena itu adalah hal yang mustahil bagi kita.

Iya aku paham. Aku patuh dan aku tidak membantahmu.  Aku menuruti katamu.  Aku mendidik diriku agar tidak berambisi untuk memilikimu seutuhnya.  Aku memahaamkan diriku bahwa kau hanya dapat aku miliki di waktu yang tak dapat dipastikan.  Artinya kau dan aku hanya akan sesekali saja bertemu untuk memadu kasih itupun dalaam kesempatan yang yang sangat sempit.  Aku belajar menerima semua itu. 

Tapi tahukan kamu betapa aku tersiksa?  Betapa aku sakit dan gelisah?  Aku bahkan tidak punya satu dayapun walau hanya sekadar menyapamu.  Aku menjadi sangat segan.  Perjumpaan kita seakan tanpa makna.  Entah karena hanya 17  menit bagimu semua itu menjadi sia-sia dan berlalu tanpa bekas. 

Ingin sekali aku bertanya, "Mengapa  kau menjadi sangat cuek? " "Apa  aku terlalu tak berkesan bagimu" "Mengapa kau menjauh?  Jelas kau tahu aku tak pernah mengusik dia.  Aku hanya ingin kamu bukan niat menghancurkanmu" "Mengapa pesanku yang baru saja bersamamu seakan sama dengan pesan seseorang yang sngat kau benci tapi karna kau menjga perasaannya akhirnya kau hanya berpura pura baik untuk menyenangkannya.  Apa itu juga yang kau alaami? " Apa aku terlalu menjengkelkan sehingga balasanmu sangat acuh? "

Entahlah, begitu kira-kira berbagai pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadamu. Tapi karena aku takut kehilanganmu aku kembali menyimpan pertanyan2 itu dalam hatiku meski sampai kapanpun hatiku tak akan kuasa untuk memberiku jwaban. Aku selalu teringat pesanmu bahwa aku tak boleh menuntutmu apalgi memaksamu.  Aku takut kau marah lalu kita kembali jauh seperti 11 bulan yang lalu. 

Aku ingin menjaga semuanya.  Aku ingin tetap memilikimu walau dengan cara harus mengorbankan hal lain yang lebih penting bagiku.  Aku ingin selalu bisa bersamamu walau aku harus menderita karna hakku yang sangat terbatas.  Aku ingin mengatakan rindu saja tak mampu.  Aku takut kau akan marah karena kau berpikir aku terlalu posesif dan sebagainya.  Padahal kau tahu betapa aku memerangi hasratku. 

Aku ingin kau ada, bukan menuntut atau memaksa.  Aku hanya ingin kau tidak brrsikap militer kepadaku.  Aku takut dengan jwabanmu yang singkat.  Kau menghijabku.  Mengertilh betapa kerinduan itu menyiksaku. 

Ya aku tahu aku sangat menjengkelkn.  Mungkin kau berpikir betpa aku membosankan krena rindu aaja yang aku kabarkan kepadamu.  Aku minta maaf krna hanya itulah kta yang mewakili perasaanku.  Jika kau pernah merasa rindu pada seseorang kau akan tahu betapa kerinduan itu menyakitkan. Dia bukan hanya membuatku bersedih. Ia juga mematahkan hidupku.  Iaa melumpuhkaan hatiku.  Gelisah dan pilu terus menyelimuti waktuku. 

Apa yang harus aku lakukan??  MELUPAKAN dan MENJAUH. Aku tahu ini solusinya  tapi kau tahu betapa itu sulit aku lalui.  Hina, bodoh dan entahlah. Kau pantas meninggalkanku krna aku memang tidak punya seuatu apapun yang membuatmu bangga kepadaku.  Salahlah aku bila sulit melupakanmu?  Mengapa cintaku harus lahir kepada orang yang salah?  Mengapa cintaku salah?  Aku ingin cinta itu suci dan tulus lagi apa adanya. Aku ingin sebuah kebenaran yang membahagiakan. Sayangnya sampai matipun selama kau yang aku cintai kesempurnaan itu akan sangat jauh dri hiduppku meski aku mencintaimu dengan sabar dan benar.  Kebahgiaan akan sulit aku abadikan meski setiap hal sekecil apapun tentangmu selalu membuatku merasa bahgia. Itulah cinta. Otakpun akan lenyap.....

I really miss u so much dear.  You are my soul, my hope and my beloved.  I wish u become my soulmate....
I am sorry for all mistake. I love u.

Kamis, 09 Maret 2017

Hubungan Tanpa Status

Ternyata harus ku akui berat menjalani cinta tak pasti
Indah ikatan yang kurasa rela terjalin tanpa status semata
Lelah kian menghimpit hati tak semestinya menggoreskan perih
Sekian lama aku bertahan salahkah aku bila menuntut kepastianmu
Reff :
Sapatutnya aku sadari tak mungkin aku memilikimu
Karena sesungguhnya ikatan yang tlah kita sepakati
Membuat hatiku yang terluka
semakin ku tak kuasa untuk mengakhirinya
Tak berartikah semua ini ku memberi yang terbaik untukmu
Meski terkadang kubertanya dalam hatimu pernahkah kau merasa bahagia
Sekiranya ku takkan bisa berikan kepastian untukmu
Biar keadaan ini berjalan seperti adanya
Memaksa hatimu tak bedaya
menjalani hubungan tanpa status semata
Interloud :
Demi waktu yang bergulir diantara kita
Mungkin kan terluluhkan hati oleh ketulusan cintamu yang meyakiniku

Rabu, 08 Maret 2017

Utak Na??? (U, Pm Fw)

Dalam mencintai "utak" memang tak pernah mampu berperan dengan baik. Bahkan dia vakum untuk berjalan. 

Alahom, alahom, alahom. Han ek le kupike sabe-sabe aku salah. Alahom alahom alahom. Bek le ta marit manteng. Alahom alahom alahom tanyo pih hana talo sapu.

Kakeuhlah, meunan ju. Utak Na?? Bek paniklah!!

Ule na, idong na, mata na, dumpu na. UTAK SAGAI HANA. Pu tapeugah man, ATE (hati) pih tan....

Hei, mudah sekali bukan kata-kata kasar itu terlempar dari bibirmu?
Benarkah hatimu yang membisik agar aku lumpuh dan melenyapkan segalanya??

Betapa arus menghanyutkan
Menenggalamkan semua mimpi
Terbakar sudah segala amal
Lenyap sunah dan wajibpun melayang entah ke mana
Semua karena arus teramat buas

Lalu hati?
Ingin kupatahkan namun daya terbuai
Berharap kasih dan sayang menyatu dalam ancang-ancang.

Pintamu menyakitkan
Melewati arus dengan pasrah
Apa kau kira angan itu akan tenggelam?
Memang tidak, tapi demi hulu aku merela

Akhirnya kau dan aku terpahat tak menentu dalam sedetik waktu yang tak berbekas
Tak ada sesal sebab murka pada-Nya aku sngajakan
Tapi kekejamanmu sungguh sulit aku memberi tafsir

Jangan menuntut, aku mengiyakan
Semua demi kau agar kisah silam tak terulang
Milikmu hanya miliknya
Lantas kenpa kaau beri juga untukku?

Karna aku meminta??

Tak kuasakah kejam dan kasarmu menolak?

Tidak ada tuntutan, tapi harapan menari dalam hayalan
Mengapa egomu begitu beraja sayang?
Tak mudahkah kemesraan itu menjadi milikku?

Bingkai semalam selalu kau retakkan dengan bisu yang tak ada makna??
Seolah kau dan aku bukan sepasang di waktu lalu??

Salahkah hati yang merindu?
Salahkah hati yaag ingin disapa??
Tak memaksa, hanya ingin sedikit bahasmu tentang harga dari pengorbanan.

Tak apalah, DIA tak ingin aku jauh
DIA teramat sayang kepadaku
DIA ingin aku kembali meski merah dan kotor masih ingin aku semaikan di lembaranku.

Semua demi kau yang aku gilai.
Pahamilah meski tanpa balasan rindu
Setidaknya akui kebersamaan itu!


Betapa kebodohan telah setia menemaniku

Betapa otak tak mau menyapaku

Lon memang hana utak, sebab utak telah dibutakan oleh cinta yang tak akan pernah terwujud. Tapi aku selalu menjalani semuanya dengan suka dan rela. 




Jumat, 03 Maret 2017

Bolehkah Aku Melamarmu?

Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar dalam penantian sebuah rasa. Sejak dua tahun yang lalu aku memutuskan untuk tidak lagi memberikan kesempatan kepada lelaki yang menginginkanku untuk menjadi istrinya. Mungkin sebagian orang memungkiri adanya cinta pada pandangan pertama, tapi aku percaya karna yang sering menimpaku justru cinta pada awal perjumpaan. Jarang sekali aku jatuh cinta kepada orang terlebih dahulu dekat tanpa ada cinta lalu bersemi hati untuk saling memiliki. Bisa dikatakan jrang, sayangnya setiap kali aku dicintai atau jatuh cinta pada pandangan pertama tidak lama cinta itu pasti akan kandas.

Cintaku kandas karna aku terlalu sering menimbang dan membedakan orang yang mencintaiku dengan org yang sempurna y aku inginkan. Hatiku tidaklh pernah tetap pada pilihannya.

Terkadang aku yang betah malah dia yang memilih pergi karna sikapku yang acuh tak acuh dengan pasangan. Aku tidak tahu mengapa 3 tahun belakangan ini aku menjadi seperti orang yang tidak memiliki rasa untuk berkasih dan bermesraan dg pasangan. Yang kutahu hanya rindu y ada hrus dilpaskan. Entah apa y ditafsirkan orang akan diriku itu aku sudah tidak menghiraunya.

Kembali terkenang pada seorang pria yang sangat membuatku terkesan. Kami berkenlan dalam sebuah perjalanan. Dengan berbagai cerita yang biasanya dituang dalam bagian orientasi oleh seorang penulis membuatku tidak perlu lagi menjlaskannya panjang lebar di sini seperti apa tahap perkenalan kami.

Intinya, pada saat pertama x bertemu pria itu sudah menunjukkan rasa tertariknya kepadaku. Akupun mrasa hal yang sama. Cirinya yang sudah tampak berusia matang membuatku menduga bahwa dia bukanlah seorang bujangan lagi. Ternyata dia seorang suami beranak satu. Tidak tanggung2, saat berkenalan denganku dia mengaku anaknya sudah kelas 6 SD.

Pertemuan kami hanya sekali selama dua tahun ini. Hingga akhirnya pada 3-3-2017 kami kembali bertemu dg alasan aku sudah sangat simpati pada sikap dan usahanya yang hampir setiap saat menghubungiku ingin bertemu denganku walau hanya sesaat. Dia menghubungiku sejak pertemuan pertama hampir setiap hari.

Mula2nya aku merasa nyaman dan memberinya ksempaatan untuk dekat tapi hanya via telpon. Dia mematuhi semua aturan y kubentuk. Setiap dia menghubungiku rasa bosan menyelinap di sela-sela rindu dan bimbangku. Kebosanan itu membuatnya lelah menghadapi sikapku yang terlalu dingin padanya hingga akhirnya dg rasa tidak ingin meninggalkanku meski tampak aku menolaknya dia tetap berusaha menghubungiku walau hanya dalam  seminggu sekali.

Waktu terus berjalan. Setiap telpon darinya selalu aku tanggapi setngah hati hingga akhirnya dia tidak ingin menggangguku yang setia hari beralasan sibuk kuliah. Akhirnya dia hnya mengubungiku sebulan sekali.

Dia selalu setia menelponku walaupun setiap usahanya tidak pernah berbuah manis. Tiba-tiba dg rasa iba aku mencoba memberinya ksemptan untuk bertemu setelah perjumpaan pertama di awal perkenalan itu.

Suatu yang sudah kuprediksikan. Setelah bertemu dia akan semkin jatuh hati kpadaku ternyata tidak meleset. Hal yang tidak ingin kudengar dari pria yang satu ini ternyata harus kudengrkan juga.

"Udah lama sekali ya kita gk jumpa." Setelah obrolan biasa mengawali makan malam kami dia mencoba untuk mngenang masa kami berdua. Aku dan dia tidak pernah pacaran, tapi baginya aku adalah kekasih yang selalu dia tunggu meskipun aky tak pernah memperhatikannya atau membalas usahanya.

"Iya udh setahun lebih" Jawabku
"Mana ada, udh hmpir dua tahun".
Berbagai pertanyaan dia ajukan seperti "Kenapa gk pernah mau ditelpon olehku?? Apa aku terlalu menggangggu?? Apa y kamu rasakan saat berdua dgku, dan berbagai pertanyaan lainnya y sangat sulit untuk aku jawab.

Tibalah pada inti yang membuatku tidak tahu harus menjawab apa.
"Kamu percayakan betapa aku setia menunggumu? Betapa aku sungguh dan serius ingin bersamamu. Betapa aku blum melupakanmu. Mungkin bgi orang lain perjumpaan sekali itu tidaklah berarti. Tapi bagiku itu lebih dari ckup. Sepertinya kamu semaakin beda. " Rayuannya muncul, sungguh saat mendengar semua uraiannya aku bukan fokus memikirkan jawaban untuknya melainkan sibuk menghayal betapa kepahitannya menjadi pengalamanku juga dalam mencintai seorang pria lain y bukan dia. Aku menghayal seandainya pria y di dpanku adalah dia yang selama ini aku rindu dan harapkan pastilah hidupku akan trasa smpurna.

"Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu menjadi milikku??" Tanyanya yang membuatku berhenti menikmati makanan y ada di dpanku.

"Abang sudah memiliki orang yang halal yang harus abg bahgiakan, knpa masih terus berpikir untuk bahagia dg orang yang bukan siapa2??"  Jwabku mencoba mencuri secuil kalimat dari pria yang aku cintai dalam anganku.

" O bukan siapa2, jdi keberadaanku selama ini bukanlah apa-apa? Iya??" Tanyanya dg khas Medannya.

"Yah kan emg gk ada apa2, Abang ingatkan pesan dulu? Jangan mengajakku terbang, angin di langit terlalu berbadai. Abg pahamkan itu mustahil?" Abg sudah punya keluarga sendri.

"Kamu orang yang beragama, shrusnya kamu tahu tidak ada larangankan bagi laki2 untuk memiliki istri lebih dari satu asal dia mampu?? Berapa kali sudah aku jelaskan bahwa aku mampu untuk membimbing  kalian berdua." Jawabnya dg sedikit kecewa

"Tapi orang tuaku tidak ingin hal itu terjadi. Dia ingin aku menikah dengan orang yang belum pernah berkeluarga. Lagipun. Apa mungkin kita akan cocok?? Jarak usia kitapun sangat jauh,  15 tahun. " Aku mencoba menepis rasanya dengan mengarang. Sesungguhnya orang tuaku tidak pernah menuntutku harus seperti pernyataanku di atas. Orang tuaku hanya ingin aku mndpat suami yang beragama, baik akhlaknya, berkerja yang mapan dan rapi. Soal umur bukanlah masalah, toh ibu dan ayahku juga menikah di usia yang sangat jauh berbeda. Aku membayangkan seandainya kalimat itu keluar dari bibir lelaki y selalu kusebut stiap wktuku maka aku tidak akan mnunggu sampai kalimatnya hbis aku akan mencoba mencari jalan keluarnya dg memberi jwaban iya.

Sayangnya pria y di dpanku buknlah dia..
" Aku ingin menikah lagi. Kamu adalah permpuan y aku pilih sejak dulu. Maukah engkau menerimaku sebagai suamimu dg statusku yang sudah kau tahu? Aku ingin melamarmu. Kapan aku boleh ke rumah??" Dia bertnya dg penuh rasa prcya diri yang membuatku tidak berani mngatakan tidak, tidak tega.tepatnya.

" Hahahaha,.menikah?? Lamar?? Jangan dululah, aku bahkan blum tepikir akan hal ini.bahkan sekalipuk aku tidak menduga ini akan trjdi."
  Jwabku

"Kenapa?? Kamu gak mau sama aku??  Aku terlalu tua? Terlalu besar untuk mendampingi kamu yang kecil?? " dia brtnya dg kesan seakan dia  tak akan mampu menrima jwabanku jika itu kujwab iya'

"Entahlah, akupun bingung. " jwabku singkat. Kita liat aja ke dpan. "

Akhirnya dg obrolan lainnya perjumpaan itupun berakhir.

Jujur, bersamanya yang kubayangkan adalah dia. Dia y aku rindu setiap saat. Seandainya dia y datang sungguh aku tidak akan ragu sama sekali, dg berni aku akan menjlaskannya kpda kluargaku y sudah mngenalnya lewat ceritaku. Sayangnya bukan shingga aku menjdi galau.

Pasalnya aku ingin sekali mnikah, tpi selalu disapa oleh orang yang tidak menarik hatiku.

Akhirnya aku hanya mampu menunda pertanyyannya "Beri aku waktu 2 bulan untuk lebih mengenalmu. Beri aku waktu untk membrnikan.diri.bertanya kpada ibuku y sudah sangat ingin kuberi menantu. "

Akhirnya hanya ini y mampu kuceritakan,.ka.teungeut...

Byeee....

Intinya aku galau,.apa y hrus aku lakukan???

Dia tampan, rapi, tinggi besar, dan manis dg matanya y sipit dan bibirnya y kecil. Dia gagah Bahkan terlihat lebih menantang dari pada pria y selalu kurindukan itu. Memang priaa ini lebih tua 3 tahun dri dia. Dia yang kurindu lebih membuatku percaya diri jika bersamanya krna sikap dan tampilannya y masih terlihat seperti mhasiswa tua di program pascasarjana usia 26-27  thunan.

Tapi ya begtulah....
Status merka berbeda, y satu seorang pendidik yang satunya seorang PU.

Bukan materi y kupertimbangkan,.jika melihat itu lelaki ini lebih mapan dari dia. Tapi hatiku sepnuhnya milik lelaki pendidik itu yang juga sudah beristri dan beranak dua.

Apa y hrus aku lakukan?? Mungkinkah aku menerima suami org y jauh umurnya driku? Apa pendpat org2 kpdaku jika aku menrimanya?? Bodohkah aku y mau jdi istri kedua??

Bagaimana keluargaku?? Krna dia sudah tampak sangat matang. Tapi seandainya dia y kucinta melakukan hal ini. Pertimbnganku pasti akan berbeda.

Entahlah....