Yaa, kamu selalu berbeda di setiap waktu. Ketika tak bertemu kau acuh, tapi kau anggun memblas kataku. Trkadang pula kau seperti ayam yang berkokok trkadang pula bagai singa yang mengamuk. Lain lagi ketika kita di antara ribuan insan. Bahkan lebih lain lagi ketika hanya ada kau dan aku dalam sunyi yang hening menggiurkan. Entahlah, kau selalu manis dan membuat hatiku tak henti bernyanyi riang meski kadang kuberitahu atau hanya aku biarkan sirna bgtu saja.
Setiap saat pikirku hanya mengapa waktu terlambat mempertmukan kita, mngapa aku tak cukup pantas untuk mnjdi ratu yang mendampingimu lalu memberimu hakikat yang sejati.
Aku trus menyesali mengapa aku bukan dia, mengapa aku mengenalmu kemudian??
Kau tahu? Tak ada lagi nama yang berlayar di palung hatiku kecuali haanya namamu yang satu sejak itu. Kau tahu? Aku tak pernah lupa bagaimana cara kau membahgiakanku yang mgkin tak sadar kau lakukan wlau hnya dengan sebait kalimat singkat.
Kau pasti mengira kecupan itu sirna bgtu saja. Kau tahu? Kecupanmu, belaianmu, dekapanmu, lembutnya kamu, sendunya suaramu, halusnya kasihmu semua itu masih berbekas meski tak kau beri bekas. Smua itu masih trbyang meski kau sndri telah melupa. Semua itu masih trasa meski mungkin kau tak pernah sadar. Semua tentangmu bgtu indah walau bagimu itu hanyalah fatamorgana.
Kau sngat berarti walau mungkin aku selalu kaau lupa. Tapi segala yang kau beri aku seakan mengaku pantas dan yakin. ENTAHLAH, mungkin sikapmu sudah mutlak bgtu adanya bahwa akan bnyak hawa yang lumpuh pada buaian kaatamu yang menyentil hati.
Sungguh, meski kau miliknyaa, tapi aku berkhayal puas bahwa kau adalah kebhgiaanku yang utuh dan tak terbgikn...
Maafkan aku yang trlalu melampaui bataas...
Aku rindu, ingin seperti hari lalu dan semasa insan dalam alamnya yang pertama. (Pimen)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar