Jumat, 11 November 2016

Semua karena Mimpi

Karya Fistar Leasa
--------
Kau dalam genggamanku. Aku seperti ratu yang bahagia tak terkira karena memiliki seorang pangeran yang tampan, baik, dan mempesona sepertimu. Kita sudah begitu dekat. Kau senantiasa ada untuk mengisi hariku seperti desiran angin yang tak henti berderu. Kau laksana malam yang sejuk, selalu membuatku betah untuk diam lama di sisimu. Akupun selalu ada untukmu. Aku datang memberimu sejuta kasih. Aku hadir menyelimutimu dengan penuh kehangatan asmara.

Kita begitu dekat, bagaikan kulit dan daging. Kita semakin akrab, bagaikan sepasang kekasih yang baru saja melabuh cinta di angkasa. Kau dan aku sudah seperti bintang dan langit, melekat tak terlepaskan.  Kau pasti tahu sebetapa bahagianya aku menggapai semua asaku itu bukan? Kau pasti tahu bahwa tak ada yang lebih berharga dari kebersamaan denganmu. Kau pasti paham betapa aku ingin semua ini abadi. Sungguh, aku benar-benar merasa bahwa bumi dalam genggamanku.

Pelan tapi pasti, seketika aku merasa ada sayatan di lubuh hatiku. Aku merasa ada perih di jantungku. Siapa yang menyayatku? Sangat kejam siapapun pelakuknya.

Aku ingin ikut menyelami samudera bersamamu. Aku ingin merangkulmu. Aku ingin memelukmu. Aku ingin ada di sisimu ke manapun kau pergi.

Saat itu, kau hendak pergi jauh bersama temanmu dan keluargaku. Semacam ada batu besar yang menghadangku malam itu. Aku ingin melawan, tapi seperti ada hujatan yang melarangku untuk ikut bersamamu. Aku bingung,  mengapa aku tak ikhlas kau pergi padahal kau bersama keluargaku. Aku bingung, kenapa ada satu wanita asing yang sudah menunggu di seberang jalan untuk menggendong tasmu. Aku mencoba menahanmu. Kau tau apa? Kau malah pergi dengan tergesa-gesa. Kau dan keluargaku meninggalkanku seorang diri.

Entah dari mana asal ombak besar itu, tiba-tiba aku sudah tenggalam di dalam lautan yang sangat dalam. Aku kebingungan, entah bagaimana caranya aku membaca pesanmu yang tiba-tiba memenuhi layar ponselku.

"Tinggalkan aku sendiri, jangan pernah ganggu aku lagi. Aku dan kamu tidak akan pernah bersatu. Tolong pahami itu. Aku tidak bisa memaksakan diriku untuk terus bersamamu. Aku tak dapat mencintaimu. Walau kau dan aku bersama itu semua hanya akan menyiksaku. Aku tak pernah sungguh-sungguh mencintaimu. Aku juga tak pernah bermimpi untuk memilikimu. Maafkan aku, selama ini aku hanya bersandiwara." Tulismu dalam sebuah chat via bbm malam itu.

"Mengapa? jawab aku dengan jujur? Apa karna aku tidak seperti primadona? Apa karna aku tidak seistimewa gadis-gadis yang pernah kau tunjukkan padaku? Iya? Bukankah kita sudah sangat dekat? Kenapa kau tega membohongiku? Mengapa kau begitu kejam? Apa kasih dan sayangku tak cukup indah untukmu? Mengapa abg mengapa? Apa aku tidak pantas untukmu? Aku sudah mencoba menjadi yang terbaik untukmu. Aku sudah berusaha membuatmu jatuh cinta, kenapa kau tak memberiku kesempatan? Apa salahku abang? Jujurlah, aku mohon. Apa alasan sebenarnya, katakan saja. Jangan takut kau akan menyakitiku, sesungguhnya semua sandiwara inipun sudah sangat menganiayaku. Apa yang sebenarnya kau sembunyikan? Apa kau memiliki gadis lain yang kau simpan di hati sehingga kau tak pernah bisa mencintaiku? Iya? Jika itu kebenarannya jawab saja, aku akan ikhlas meskipun itu sangat pahit" Aku memohon dengan keadaan lemah tak berdaya.

"Iya, aku mencintai wanita lain yang jauh lebih sempurna dari kamu. Dia sangat istimewa bagiku. Aku tak bisa menggantikannya denganmu meskipun aku belum dapat meraih hatinya. Dia terlalu indah untuk kau serupai. Kau tak akan mampu menjadi dirinya. Dia gadis suci yang tak berdosa. Dia sangat cantik dan anggun. Sebab itulah aku tak bisa memilihmu. Pergilah. Kau akan menemukan yang pantas untukmu. Kau akan bersama dengan orang yang mencintaimu juga. Aku tak layak untukmu. Kita bagaikan langit dan bumi, mustahil bertemu walau dalam angan-angan. Semoga engkau paham" Balasmu lebih lanjut.

Huuhhh, tiba-tiba aku terbangun. Aku sadar ternyata aku baru saja bermimpi tentangmu untuk ke sekian kalinya dengan mimpi yang sama meski alurnya berbeda. Aku melirik jam di ponselku. Ternyata sudah pukul 3.02 dini hari. Aku tersentak, mimpi yang lalu aku terbangun pada pukul 3.20 dini hari. Apa maksud semua ini? Mimpi apa lagi ini?

Aku kebingungan, aku merasakan bahwa mimpi itu sangat nyata. Sakit dan perih di dada bukan hanya aku rasa dalam mimpi saja. Saat terbangunpun jantungku sudah berdegub sangat kencang. Nafasku seperti orang yang dikejar binatang buas. Aku sangat ketakutan. Aku mencoba membuka pesanmu untuk meyakinkan diriku bahwa itu tidaklah benar. Ku buka obrolan terkhir kita. Hanya ada pesan Bc dariku dan kalimat "terimkasih ya" darimu. Tidak aku temukan pesan petaka dalam mimpiku itu.

Entah kenapa, seketika pipiku menjadi basah dalam dekap guling yang kupeluk dengan erat. Jantungku sudah tak karuan, aku benar-benar ketakutan. Aku menangis terisak-isak. Aku ingin shalat malam tapi tamu bulananku sedang singgah. Akhirnya aku hanya mengambil segelas air putih dan meneguknya sampai habis.

Aku mencoba untuk mengirimmu pesan.
"PING"
"Maaf kalau aku mengganggu, malam ini aku memimpikanmu lagi di waktu yang sama dengan mimpi yang sama juga"

Kulihat pesannya sudah terkirim. Aku tahu bahwa kau sedang tertidur. Rasanya aku ingin membuatmu terbangun dan bercerita. Tapi aku tak punya keberanian karna aku tahu aku bukan seseorang yang penting bagimu sehingga pantas untuk menggangu lelapmu.

Akhirnya aku semakin menangis.
Dalam kebingungan, aku mencoba nekat. Kau tahu apa yang aku lakukan? Tanpa aku biarkan kau membaca pesan itu aku segera menghapus kontakmu dengan hati yang berat. Lalu aku membuka semua akun di media sosialmu. Aku memilih untuk memblokirmu. Sampai ke kontak personmupun tak aku biarkan bersisa. Tiba-tiba aku melihat foto terakhir yang kau upload. Foto dengan baju putih di bibir pantai yang berpasir putih dan kau mengenakan kaca mata hitam. Kau tau itu apa? Wajah itu persis seperti yang ada dalam mimpiku. Keteduhan wajahmu yang manis sama seperti kau dalam mimpiku. Saat setelah berpisah beberapa waktu kau dan aku bertemu tapi tidak saling bertegur sapa. Hanya sekedar melihat dan memberi senyuman. Persis seperti dalam fotomu itu.

Aku semakin sakit. Aku bertanya sendiri. Apa ini hanya kebetulan atau Allah sedang menjawab doaku? Aku tahu bahwa mimpi ada dua jenis, yang pertama datangnya dari Allah dan satu lagi datang dari syaitan yang tak dinanti. Apapun itu, aku percaya ini jalan Allah untuk memberiku petunjuk dan kebenaran serta menjawab kebimbinganku. Sepertinya semua sudah jelas bahwa Allah ingin memberitahukan kepadaku bahwa kau bukanlah takdirku. Sepertinya ini benar-benar tanda bahwa kita tak akan pernah bersama.

Dengan penuh ketidakrelaan aku menghapus semua kontakmu. Hanya di satu akun yang tidak tega aku hapus karna di situ masih tersimpan obrolan kita saat pertama bertemu. Saat kau dan aku masih kemungkinan akan bersama.

Akupun kembali memejamkan mataku. Aku ingin segera menulis kisah ini di catatan harianku. Tapi aku tak ingin rasa perih itu mampir. Akhirnya aku tertidur.

Pagi hari, tanpa ku duga tiba-tiba ada undangan bbm yang masuk.
"JWTAVP, saya ingin mengajak anda mengobrol di BBM" Sebuah hal aneh yang sulit aku percaya.

Tanpa menunggu lama, aku segera menerima undangan itu dengan harapan kau sengaja mengundangku lagi karna kau sudah tahu bahwa aku menghapusmu di semua media sosial. Aku berharap akan ada banyak pertanyaan darimu mengapa aku melakukan itu. Aku senang tak karuan, aku gede rasa sendiri. Aku menebak bahwa kau menyimpan id bbmku.

Entahlah, sudah beberapa menit berlalu aku menunggu pesan yang muncul darimu sayangnya tak ada satu pesanpun yang hadir dari namamu. Tanpa malu aku segera menyapamu lagi.

"PING" kirimku
"Ya" balasanmu sangat singkat.
"Maafkan aku" Aku mengaku dengan maksud ingin menceritakan semua yang kualami tadi malam.
"Memangnya salahmu apa?" sebuah balasan yang membuatku bertanya-tanya.

Kok kamu biasa aja aku Dc? Kok kamu gak marah? Kenapa kamu invite lagi? Dari mana kamu dapat pinnya? Kenapa kamu mau add lagi tapi kenapa tidak ada satu sapaanpun sebelum aku memulainya?

Entahlah, belum sempat aku membalasnya batreku sudah lowbat. Akhirnya aku mencari tahu dengan menerka nerka dan bertanya pendapat orang-orang.

Andai saja yang dijawab orang-orang itu sama dengan kenyataannya. Bahwa kau menyimpan idku. Kau mencaritahu tentangku eh sudah tidak ada lagi dan kau segera mengundangku karna kau mengira mungkin tidak sengaja aku menghapusmu. Entahlah ketika sore hari aku masih terus bertanya padamu. Aku jujur bahwa aku sudah menghapusmu dan kau malah dengan santai menjawab
"Kalau udah kamu hapus kenapa kamu invite lagi?"

"Bukannya kamu yang invite? Aku hanya terima" balasku dengan mengirimkan bukti screen undanganmu.

"Ow, aku gak tahu soal itu. Yaudah kenapa kamu terima kalau memang gak penting?" Tanyamu yang sungguh membuatku terluka.

Apa yang sebenarnya terjadi? Aku sudah menghapusmu, kenapa kau tak sadar sudah mengundangku lagi? Dari mana pin itu muncul? Ini bukan persoalan penting atau tidak. Ini sangat berharga untukku.  Sepertinya kegalauan sudah sangat nyaman berteman denganku. Semakin aku ingin melupa tapi petunjuknya silir berganti. Kau yang dulunya selalu ingin aku temui di depan rumahmu setiap kali aku melewati rumahmu malah tak pernah aku temukan meski sudah puluhan kali aku melewati rumahmu. Tapi hari ini dan kemarin, dengan jelas aku melihatmu meski kau tak melihatku. Mungkin melihatkupun kau tak akan kenal, berbeda denganku. Tubuhmu dari belakang saja aku sudah tahu, bahkan pakaianmu di jemuranpun aku tahu. Bisa kau bayangkan bukan seberapa aku mencintaimu?.

Entahlah, semoga pilihanku ini benar. Aku menghapusmu dengan tujuan agar aku dapat dengan mudah melupakanmu. Jika aku sudah tak memiliki kontakmu lagi maka aku tidak akan dapat menghubungimu lagi sehingga ketika rindu aku dapat mengobatinya sendiri dengan perlawanan yang kuat.  Namun, dalam tindakanku ini aku berharap kelak engkau akan tetap mengintipku dengan segala cara. Aku berharap kau akan menyapaku meski aku tak pernah menyapamu lagi. Aku berharap akan ada rindu di hatimu. Aku juga berharap kau terus mencari tahu tentangku melalui tulisan-tulisan di blogku ini yang aku beri kode selalu hanya untukmu. Semoga kau sudi membacanya. Aku sangat mencintaimu. Tapi aku harus melupakanmu dan meninggalkanmu. Agar kesakitan tidak akan terlalu lama menemani hariku. 

Kau sangat sulit kugapai, kau jauh dari imajinasiku. Ketahuilah, aku selalu mengobati rinduku untukmu melalui lagu-lagu Alan Walker. Ketahuilah, aku berusaha menyukai kebiasaanmu. Jujur, aku mencintaimu tapi tak ada banyak hal yang dapat aku cari tahu tentangmu. Tidak ada jejak untuk aku mengenalmu dengan dekat. Kau sulit sekali. Aku berdoa semoga suatu masa nanti kau akan datang untuk menyapaku dengan hadir menawarkan cinta yang saat ini aku harapkan.

Sekian!
Darussalam, 11 November 2016, 20.38
--------Brjl---------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar