Jumat, 20 April 2018

Bela dan Adil Bermimpi Bersama

Sebuah cerita tentang harapan seorang teman kepada teman dekatnya, Bela dan Adil. Keduanya belum lama berkenalan. Mereka mengenal melalui jejaring sosial yang bernama Facebook. Sebuah perkenalan yang diawali dengan sebuah kebaikan. Bela mengirimkan sebuah permintaan pertemanan kepada Adil karena Bela sering melihatnya muncul di komentar-komentar atau kiriman dari teman perempuannya yang aktif bersosial, Indah namanya. Indah seringkali menyebut nama Adil dalam setiap kirimannya, khusunya dalam kiriman-kiriman gerakan sosial yang selalu mengarah pada tabungan akhirat.

Bela sering melihat Indah dan Adil berdiskusi tentang program-program amal sosial yang mereka rencanakan atau yang sedang mereka kerjakan. Bela bukanlah seorang wanita yang begitu aktif dalam bidang tersebut. Bela juga tidak terlalu cantik dan anggun. Hanya saja, Bela termasuk orang yang hatinya mudah sekali iba dan peka terhadap hal-hal yang berkaitan dengan manusia yang lain, terlebih orang-orang yang sedang dalam kesusahan.

Berbeda dengan Indah, Indah seorang perempuan yang sangat cantik, anggun, lembut, bersahaja, taat pada agama dan sangat benci kepada kemaksiatan. Selain pintar, Indah juga sangat sopan dan menjaga diri, sama seperti namanya. Indah di mata, indah juga di hati orang-orang yang mengenalnya.

Bela memberanikan diri untuk mengirimkan pertemanan kepada Adil dengan tujuan untuk bisa memiliki teman dari kalangan orang-orang hebat yang aktif bersosial. Bela mengajaknya berteman hanya dengan tujuan agar dapat bergabung atau mengikuti jejak mereka. Akhirnya Bela dan Adil pun berteman. Kurang lebih sudah setahun mereka berteman. Sebelumnya, mereka jarang sekali berkomunikasi. Tidak saling komen-mengomentari juga tidak sering berdiskusi.

Adil tak ingat persis kapan dirinya dan Bela menjadi rutin berkomunikasi, Bela pun demikian. Yang jelas, pertemanan mereka tidak hanya sampai di Facebook saja. Pertemanan mereka pun berlanjut  hingga saling tukar nomor Hp. Mereka tak pernah saling sapa dalam hal-hal yang tergolong sia-sia atau yang membuang-buang waktu. Bahkan jarang sekali dari mereka itu membahas hal yang berupa basa-basi semata. Semua yang mereka bicarakan  baik di mesenger atau di WhatsApp adalah hal-hal yang bermanfaat.

Yang jelas, Bela ingat persis kapan sosok Adil melekat kuat di ingatannya. Awal pertemanan di WA, Bela sempat berpikir untuk mendapatkan hati Adil. Tapi lama kelamaan, perasaan itu hilang karena Bela tak melihat dari gelagat Adil bahwa dia sedang mencari pengisi hati atau ingin mengisi hati seseorang. Bela pun berusaha mengurungkan niatnya. Bagi Bela, Adil sosok lelaki yang tampan, intelektual, rapi, dan berwibawa. Adil pernah memasang sebuah foto profil dengan jas entah jacket yang agak terlihat keren menurut Bela. Dalam foto itu, Adil memakai kaca mata dan sebuah tas ransel di bahunya, menunjukkan ia seorang pegawai kantoran atau orang-orang hebat yang memiliki jabatan khusus. Dalam foto itu Adil juga terlihat seperti orang yang memiliki banyak relasi dan pertemanan dengan banyak orang, entah mengapa Bela berpikir demikian.

Adil pernah mendengar tuturan itu dari Bela. Dia hanya tertawa bahagia mendengar Bela menceritakan label pertama yang diingat Bela tentang dirinya. Adil membantah bahwa dirinya tak seperti yang Bela pikirkan. Adil hanyalah seorang pegawai swasta biasa yang jabatannya masih di batas standar dengan gaji yang biasa saja. Mengenai relasi yang dikatakan Bela, Adil mengaku dirinya hanya aktif berdiskusi dan senang mencari teman-teman baru yang menurutnya berkualitas. Sehingga, cara ia menjalin pertemanan membuatnya berhati hati juga dalam memilih teman.

Adil bercerita kepada Bela bahwa ia berani mengirimkan pertemanan kepada orang-orang yang berada di luar zona hidup dan status sosialnya. Bukan hanya itu, Adil juga sosok lelaki yang sangat antusias dan berpikir jauh ke depan. Dalam memilih teman, ia tak segan-segan untuk mengajak orang-orang yang baru dikenalnya untuk berdiskusi atau minum kopi bersama. Hebatnya Adil, dia selalu berhasil melakukan itu.

Sosok Adil semakin membuat Bela kagum karena suatu respon baik yang terjadi untuk pertama kali setelah mereka berteman. Suatu hari, Bela sedang melakukan gerakan Galang dana untuk orang - orang yang membutuhkan. Berdasarkan keaktivan Adil dalam urusan tabungan akhirat, Bela berani mengirimkan pesan meminta dana semana ikhlas kepada beberapa kontak di WhatsAppnya yang diyakini Bela mampu ia dapatkan sedikit infaq. Salah satu teman yang dia yakini mau menyumbang adalah Adil.

Sebuah Rahmat, Adil dengan sungguh-sungguh menelpon Bela dan meminta nomor rekening Bela bahwa ia akan mengirimkan sedikit rizkinya yang akan dititipkan melalui Bela. Saat itu, Bela baru saja sampai di tempat pengajian ba'da magrib. Saat itu, Adil bukan hanya mengatakan akan menginfaqkan sedikit hartanya, melainkan dia juga menyarankan untuk menghubungi temannya yang katanya sangat dermawan dalam hal infaq-menginfaq.
Akhirnya, setelah pengajian selesai Bela melihat pemberitahuan bahwa Adil telah mengirimkan sedikit infaq untuk orang yang membutuhkan tersebut melalui rekening temannya Bela. Dari situ, Bela mulai kagum dan menyimpan penilaian bagus tentang Adil.

Waktu terus berjalan. Tidak ada banyak cerita lain tentang mereka. Pada suatu hari, pada awal Februari 2018. Adil memposting sebuah status dengan beberapa foto seorang ibu yang menderita penyakit yang disebabkan oleh kesalahan dari tim medis dalam urusan transfusi darah entah cuci darah. Yang jelas, dalam foto itu Adil mengajak orang - orang untuk membuka hati agar mau menolong ibu yang sangat memprihatinkan dengan kondisi ekonomi yang menyedihkan pula. Adil mengajak orang-orang untuk mau menyumbangkan hartanya dalam bentuk apa saja. Kondisi ibu itu sangat membuat hati pilu. Entah karena  dorongan apa, Bela yang seorang mahasiswi biasa, yang belum punya pekerjaan itu dengan penuh keyakinan mengharapkan Ridha Allah ia langsung menghubungi Adil dan mengatakan bahwa dia ingin beramal.

Saat itu, Bela baru saja mengaktifkan internet Bank-ing untuk rekeningnya. Sehingga ia begitu semangat untuk mengabulkan niatnya itu. Saat itu, Bela baru saja mendapat kiriman dari Abangnya. Dengan penuh suka Bela meminta nomor rekening Adil karena nomor rekening yang tertera di status Adil tidak sama dengan akunnya.

Saat itu, jaringan lelet. Bela sampai tak tidur demi menunggu proses itu selesai, apalagi itu kali pertama ia melakukan transaksi melalui internet Bank-ing nya itu. Bermacam anggapan di benaknya, antara takut ria dan ujub merasukinya. Bela takut kalau dia bersedekah itu karna alasannya Adil. Bela juga takut Adil memujinya yang akan membuatnya merasa baik dan besar kepala.

Sambil menunggu transaksi yang terus menerus gagal itu, Adil dan Bela saling berdiskusi. Dalam hati Adil, "Ini cewek beneran mau berinfaq gak sih? Kok lama banget? Jangan-jangan cuma modus biar aku layani chatnya". Bela ketakutan dan dihantui berbagai rasa yang tidak mengasikkan. Ia seperti mau menyerah dengan itu, akhirnya selesai juga.

Sebelumnya Bela senang juga beramal seperti itu, tapi jarang sekali dalam jumlah angka yang agak besar untuk ukuran anak kost. Tapi dari situ, Bela belajar untuk selalu mau melakukan itu karena Bela berpedoman, Indah dan Adil saja bisa, kenapa dia tifqk? Apalagi saat itu guru di tempat pengajian selalu mengajak dan menanamkan rasa untuk bersedekah dan menabung harta untuk akhirat, karena sesungguhnya "Harta yang disedekahkan secara berguna itulah harta yang akan tinggal, bukan malah habis". Selain itu, guru Bela pun selalu mengingatkan bahwa, bersedekah itu akan menambah Rizki dan akan semakin berkah umurnya. Akan semakin dicintai Allah dan beberapa manfaat lainnya. Bela kelaparan mendengar semua surah dan smngat yang gurunya tanamkan itu.

Seusai memberikan laporan kepada Adil, Bela pun menuliskan beberapa doa yang ia mintakan kepada Adil untuk melantunkan doa itu kepada Allah untuk dirinya. Hal itu sangat ditanggapi dengan baik oleh Adil.
Malam itu, Adil tidur dengan memikirkan Bela yang menurutnya sesosok wanita yang sangat semangat dan cinta terhadap agama. Selain sebagai seorang pekerja swasta, Adil juga seorang guru di sebuah dayah tempat ia menimba ilmu selama 9 tahun. Sebagai seorang santri dan guru ngaji. Sikap dan sifat Adil benar-benar sangat mencerminkan sosok lelaki yang menjaga imannya dengan baik.

Suatu ketika, saat Bela sedang berada di kampung halamannya. Adil menelpon Bela. Entah itu yang pertama sekali entah bukan, yang jelas, kali itu sangat membekas dalam kedua benak mereka. Entah pada komunikasi yang kapan ternyata Adil sudah mengetahui tentang perkuliahan Bela. Adil dan Bela sama-sama orang yang senang dalam menulis. Hobi yang sama itu membuat Adil memberanikan diri untuk meminta beberapa ide dan saran kepada Bela tentang karya-karya tulis yang mereka senangi.

Diskusinya berlangsung dengan durasi lebih dari 1 jam. Dalam diskusi itu, Adil banyak sekali memberitahu Bela tentang beberapa ilmu kepenulisan dan juga cara untuk berteman dan memperkenalkan beberapa teman di facebooknya kepada Bela. Bela pun mendengar semua cerita Adil dan melihat bahwa Adil adalah sesosok lelaki yang amat sangat menyukai karya sastra atau sebuah tulisan pada umumnya.

Adil datang kepada Bela dengan tujuan Bela dapat membantunya mempercantik karya atau memberikan komentar - komentar terhadap karyanya. Bela adalah seorang pemalas yang sedang dilanda gundah yang berkepanjangan karena skripsinya yang tak kunjung selesai. Dengan perasaan tak ingin mengecewakan Adil, teman barunya yang sangat terlihat berkualitas itu  Bela pun mencoba membaca dan mengedit tulisan yang dikirimkan oleh Adil  tersebut...

Ketika saling berbicara via telpon itu. Adil tak menyangka bahwa wanita yang tadinya dianggap sangat baik itu ternyata tak punya tutur kata yang anggun dalam berkomunikasi. Bela bukan sosok perempuan yang pemalu dan kecil suaranya. Selain suaranya yang besar, Bela juga tergolong orang yang sangat cerewet dan banyak bicara. Bicaranya sangat tajam dan cepat.

Adil merasa heran dengan sikap Bela itu. Tapi dia tidak ingin menyakiti, sehingga dia Hanya mendoakan nya semoga suatu hari nanti Bela dapat menjadi sosok perempuan yang lebih baik. Mulai saat itu, Adil berambisi untuk mengajak Bela terus berada dalam kebaikan dan perubahan.

Hari terus berlalu, di antara keduanya sudah sering terlibat diskusi penulisan atau hal-hal yang bermanfaat lainnya. Hingga hubungan keduanya menjadi semakin dekat, bahkan Bela berkali kali sudah bercerita tentang kehidupannya dengan Adil, baik cerita tentang ibunya, tentang pengajiannya atau tentang lelaki-lelaki yang mendekatinya, bahkan sampai pada kebiasaannya, sifat dan segala hal tentang dirinya kepada Adil.

Adil pun begitu, ia menjadi dekat dan merasa nyaman dengan sosok Bela yang begitu apa adanya dan sangat terbuka. Adil penasaran kenapa Bela menjadi demikian. Hubungan mereka menjadi semakin dekat sampai beberapa masalah dari keduanya sering mereka diskusikan untuk mencari jalan keluar.

Pertemana mereka pun akhirnya tidak hanya di media sosial saja. Saat itu, Bela membutuhkan saran judul buku tertentu untuk penelitian skripsinya. Bela tau bahwa Adil orang yang suka membaca dan banyal informasi dan wawasan juga dekat dengan orang-orang hebat. Singkat cerita, Adil menemukan buku yang dicari oleh Bela dan akhirnya mereka berjanji untuk ketemu untuk mengambil buku tersebut.

Tak ada apapun yang diharapkan Bela dari pertemuan itu selain hanya ingin menjadi lebih dekat dengan Adil. Adil begitu teguh pada janji mereka untuk bertemu. Benar-benar sosok lelaki yang bertanggung jawab dan memiliki kepribadian yang baik. Pada perjumpaan itu, Adil menjadi semakin kagum pada sosok Bela. Meski ia tau Bela ada banyak kekurangan dari segi bicara, sifat dan sikap atau cerita hidup. Adil memandang Bela dengan pandangan bahwa Bela sesosok gadis yang amat bersungguu-sungguh untuk berubah memperbaiki diri. Selain pakaiannya yang muslimah, Bela juga mulai dianggap asik oleh Adil.

Sayangnya, pada pertemuan itu mereka tidak saling menatap satu sama lain, bahkan pertemuan itu Hanya berlangsung sekilas saja. Ambil buku lalu masing-masing pergi pada urusannya. Setelah kejadian itu, Adil dan Bela sudah semakin rutin berkomunikasi. Sebuah komunikasi yang dianggap hal biasa oleh Adil. Dia senang berbicara dengan Bela karena dia menganggap Bela sangat peka dan mudah nyambung dengan ide-ide yang ia sampaikan. Ada banyak inspirasi tulisan atau pengalaman yang ia dapatkan dari cerita-cerita atau tanggapan Bela setiap kali ia meminta satu pendapat. Sayangnya, Bela sering kali mengeluh dengan kemalasan dan keburukannya yang tidak semangat lagi dalam perkuliahannya.

Sehingga ada sedikit perasaan enggan dalam diri Adil untuk tetap melanjutkan pertemanannya  dengan Bela. Namun, Adil melihat bahwa ada banyak kelebihan dan potensi dalam diri Bela yang akan berkembang dan baik hasilnya bila Bela mau mengubahnya. Saat itu, Adil mulai berpikir untuk mengubahnya menjadi sosok yang lebih baik lagi. Ia ingin tetap berteman dg Bela dengan harapan Bela bisa bekerja sama dengannya bila kuliahnya telah selesai dalam bidang kepenulisan.

Bela merasa semakin nyaman dengan sosok Adil. Padahal, ketika pertama kali mereka telponan, Bela merasa Adil itu sangat membosankan dan terlalu banyak bicara juga. Sebab, ia sanggup berbicara dan bercerita panjang lebar. Bela merasa, "Ini orang kok kepala nya sama persis kayak aku? Gak mau dengar dan ngasih orang kesempatan untuk bicara, dia dia aja yang harus didengar" tapi lama kelamaan anggapan itu hilang karna Bela selalu didengarkan dengan baik oleh Adil.

Adil bahkan mau mendengar curhatnya sampai larut malam, rela begadang sampai 2 jam untuk mendengar semua keluh kesah Bela. Bela bercerita tentang semua kegundahan hati dan ibadahnya. Yang paling membuat Bela bahagia adalah, Adil bersedia menelponnya duluan meski terkadang itu atas dasar kepentingan Bela. Kadang-kadang Adil menelpon untuk meminta saran dari Bela tentang aktivitas atau agendanya, tapi ujung-ujungnya Adil harus jadi pendengar yang budiman untuk semua cerita hidup Bela. Sampailah pada persoalan percintaan Bela.

Selama ini, sekalipun tidak pernah terbersit dalam benak Bela untuk menaruh hati pada Adil. Tak juga terlintas di benaknya untuk menarik perhatian Adil pada dirinya. Bagi Bela, Adil benar-benar sosok teman lelaki yang selama ini tak pernah dimiliki Bela. Yang dianggap Bela akan menjadi teman selama-lamanya. Bahkan Bela sampai bahagia ketika Adil memujinya karna status-status Bela yang akhir-akhir ini juga semakin religius dan terlihat seperti orang yang sedang rindu-rindynya untuk beribadah.
Adil kagum pada kesungguhan dan niatnya untuk menjadi lebih baik. Hingga pada persoalan cinta yang dianggap Adil sudah sangat menggangu pikiran Bela. Bela meminta saran untuk memilih 1 dari beberapa lelaki yang mendekatinya. Dia bermaksud curhat, Adil awalnya biasa saja. Menyarankan yang terbaik, tapi lama kelamaan Adil pun merasa jengkel dengan semua cerita cowok dari Bela yang tak kunjung selesai.

Sampailah pada pembahasan, Adil ingin Bela menjadi sosok yang anggun dan lembut dalam setiap tindakannya. Bela bercerita bahwa ia sangat kasar terhadap pria-pria yang tak Ia sukai , apalagi yang hobi mengganggunya dengan berbagai motif basa-basi. Adil menyarankan agar Bela dapat berubah dan mencontohi beberapa teman nya yang ia sebutkan satu-satu.

Suatu ketika, Adil tak mampu menahan isi hatinya. Ia bercerita tentang kekagumannya pada sosok Indah, si perempuan yang berwajah Arab itu dengan segala kebaikannya. Adil mulai bercerita bahwa ia menyukai Indah. Hanya saja, ia mencoba menjaga hati dan rasanya karena dia tau ia mustahil untuk memiliki Indah. Indah terlalu sempurna. Dengan menceritakan hatinya terhadap Indah kepada Bela, Adil ingin Bela dapat mengambil pelajaran bahwa Adil mampu menjaga diri, mata dan hatinya untuk tidak memberitahu atau mendatangi Indah. Dia hanya yakin jika jodoh Indah adalah dirinya, dia pasti akan memiliki Indah si wanita bak bidadari itu.

Mendengar cerita itu, Bela yang tak punya rasa apapun terhadap Bela merasa sedikit pilu. Bukan cemburu karena Adil menyukai Indah, melainkan Bela berpikir "Kenapa bukan aku yang dipuji sedemikian ? Akan adalah seseorang yang akan memujiku juga seperti itu? Kapan aku bisa seperti dia..." Begitulah rasa yang dialami oleh Bela.

Adil tak bermaksud untuk membandingkan atau menyakiti Bela. Adil benar-benar ingin Bela berubah semakin baik. Hingga suatu malam Adil berkata "Cobalah kamu belajar lebih anggun, lebih sopan, lebih kalem, lebih lembut dan jangan besar-besar kali suara. Kamu itu cantik, baik, semua orang pasti suka padamu. Tapi cobalah gunakan bahasa-bahasa yang lembut agar orang semakin nyaman denganmu"

"Aku malu Bang, aku tidak biasa berkata lembut dan manja. Mungkin pun nggak cocok aku sok romantis seperti maksudmu itu, makanya cowok-cowok gak betah sama aku" Bela menjawab dengan harapan Adil mau membantunya.

Ternyata, Adil seperti mendengar isi hati Bela. Terjadilah kesepakatan bahwa Adil akan pelan-pelan mengajarkan Bela untuk lebih santun dan romantis yang diakui Bela selama ini hal itu sudah sangat sulit ia lakukan.

Sebelum melanjutkan misi baru, Adil bercerita dan meminta Bela mengerti.
"Kamu tau Bel, Semasa sekolah dulu, aku itu lelaki playboy yang sering kali bikin cewek-cewek nangis karna patah hati denganku. Aku punya kemampuan merayu dan membujuk yang sangat tinggi. Kamu tidak akan kuat imannya bila belajar bersamaku. Aku takut kamu akan bawa perasaan dengan cara aku mengajarimu nanti. Aku takut kamu akan sulit melupakan aku dan akan jatuh hati pada kata-kataku. Kamu tau? Ada banyak cewek yang tergila gila padaku saat ini, mulai gadis hingga janda-janda bekas pelakor. Tapi aku kuat menjaga imanku, visiku hanya satu, mengubah mereka menjadi lebih baik. Karna apa? Aku tidak mau pertemananku sia-sia. Begitu pun dengan Indah, wanita yang sering kali bermain di benak dan bayangku. Aku selalu menepisnya dengan berbagai cara karna aku menghormati dirinya yang taat pada agama. Aku pun gak mau kembali ke masa sekolah dulu. Jadi apa kamu siap dengan kata-kata aku nanti? Aku yakin kamu akan tersihir dengan kataku." Adil membanggakan kemampuannya dalam menjadi pujangga.

"Insyaallah, kan kita teman. Aku akan senetral mungkin menghadapimu Bang. Kamu itu udah kayak Abang aku sendiri , ya aku tau dalam agama kita tidak ada istilah lelaki dan perempuan berteman baik, lama lama pasti syaitan akan merasukinya. Tpi aku yakin, perasaan bahagia bisa menjadi teman dekatmu akan lebih berperan dari pada rasa nyaman untuk memilikimu. Gak mungkin lah" Bela mencoba meyakinkan Adil dengan harapan Adil percaya dan tak risih bersamanya. Padahal dalam hatinya, semua itu ia katakan karena Adil sudah mengatakan bahwa dia mengagumi Indah, jadi semacam ada rasa putus ada dalam diri Bela. Artinya ia tidak akan pernah berharap untuk bisa naik ke status yang lebih tinggi kecuali hanya sebatas berteman dengan Adil.

Adil beberapa kali menyinggung "Beda rasanya dengan kamu ya Bel, inilah itulah" Ternyata, Adil berkata demikian juga karena Bela sudah terlalu sering menceritakan pria lain pada dirinya, sehingga dia tak ingin Bela menjauhinya juga bila ia sering hadir dalam inbox - inbox Bela. Bela pun sama, takut Adil pergi menjauh bila Bela sampai gagal dalam menjaga hatinya.

Tibalah pada suatu sore yang menegangkan.
"Aku punya tanggapan tentang cerita mu. Aku mndpatkan itu dari guruku. Tapi susah kalau kuketik. Aku telpon boleh? Sebentar saja. Tidak lama. Aku tau kamu sedang sibuk. Tapi izinkan aku bicara denganmu, 5 menit saja" Bela yang pernah sebelumnya dikirimkan kata-kata itu oleh Adil saat ia butuh satu pembahasan sedangkan saat itu Bela sedang sibuk dengan skripsinya membuatnya mengira Adil benar-benar mau telpon, ternyata itu hanya selingan.

"Kirain serius, hampir pingsan aku membacanya ...." Bela kegedean. Padahal Adil udah bilang, harus hati-hati"
"Kan kamu mau belajar, itu contohnya..." Adil menjawab dengan penuh tawa ria.

Sejak itu, Bela mulai berharap Adil bisa sesering mgkin untuknhadir dan menyapanya demikian.

Tadi malam, seusai salat magrib. Tiba-tiba Bela terkejut masuk pesan WhatsApp dari Adil
"Dik, tahukah kamu kalau kamu adalah seorang gadis polos yang telah telah mengisi ruang hidupku.Aku sudah terlalu dalam menyelam dalam lautan hatimu. Kamu juga sudah terlalu lebar membuka hatimu untukku. Kamu rela memberikan duplikat kunci batinmu. Aku punya satu permintaan, dan aku harap kamu mau menjawabnya dan menerima permintaanku.Ini bukan aku yang meminta, tetapi hatiku. Aku dengan jiwa yang ikhlas memintanya, semoga jawaban yang kuterima juga ikhlas kamu ucapkan dari lubuk hatimu yang paling dalam"

Bela membaca pesan itu dengan penuh rasa yang bercampur aduk. Baru semalam ia membaca puisinya yang berjudul "Rindu" yang semua pesannya seperti tertuju pada si bidadari dunia yang sempurna seperti dalam puisinya itu. Bela yakin pesan yang dikirim ini hanya berubap cuplikan dari sedikit tulisan yang sedang ingin tulis karna sehari yang lalu Adil mengatakan bahwa ia akan membuat cerita romantis. Dalam benak Bela, pasti itu sedikit cuplikan atau bisa jadi itu kutipan dari tulisan seseorang dan lain-lain. Bela tidak sedikit pun merasa itu untuknya, karna mustahil semanis itu kalimat itu tertuju padanya. Pasti Adil bermaksud untuk meminta Bela mengedit atau mengomentari.

Bela yang sudah hampir melayang itu pun membalas "Ini bercanda kan? Ini latihan kan? Belajar kan? Oke, aku balas dengan latihan juga yaa. Kamu udah janji loe bang, gak akan tertawa apapun balasku. Jadi, izinkan aku berkarya juga, atau jangan jangan kamu kutip tulisan seseorang ya? Kutip dari mana?" Balas Bela.

Adil pun membalasnya segera "Jika hatiku yang berbicara, Sejuta kata dalam satuan detik sanggup kutulis. Tak butuh kutipan siapapun."

"Bang, aku tak tau sejauh mana aku ada di hatimu. Bukan aku sepolos yang Abang bayangkan. Hanya saja, aku takut untuk meyakinkan hatiku bahwa aku ada di hatimu. Aku ragu aku wanita yg kau pilih, yg mau engkau sebut  dalam doa yang kau langitkan.  Aku hanya mencoba mengenalmu. Mencoba untuk bisa bersatu dengan setiap bait syair hatimu, tapi aku ragu untuk memintamu, meminta pernyataan yang aku tau itu sangatlah mustahil, yaitu cinta.Apa yang kau pinta bang? Katakan saja, aku akan menjawabmu dengan penuh kejujuran. Katakan saja, apa yang kau inginkan dariku? Aku pun sudah lama ingin mendengar isi hatimu itu.Aku akan menjawabnya dengan penuh suka, katakanlah. Katakan saja. Aku menunggu kalimat-kalimatmu."

"Dik, aku sudah merasa lelah dan bosan dengan semua ucapanmu. Aku butuh kepastian itu.Maukah kamu....... " Tulis Adil. Bela syok dan penasaran. Ini apaan sih? Beneran atau latihan yang kami janjikan? Klo latihan kenapa begini amat? Ngeri kali. Bela merasa tidak akan kuat melawan kata-kata itu.
Malah, Bela sempat berpikir, apa ya kelanjutannya? Apa maukah kau jadi istriku? Mungkin Adil lelah melihat cerita Bela yang terus menerus bimbang dengan lelaki-lelaki yang datang melamarnya. Mungkin Adil sebenarnya suka pada Bela hanya saja malu untuk mengakuinya makanya ia menulis seperti itu.

Dengan penasaran Bela membalas lagi " Aku lebih lelah membaca setiap bunyi-bunyian yang kau tulis. Aku juga butuh kepastian mu. Kepastian apa yang Abang mau? Katakan saja, jgn biarkan aku menduga yang tak mungkin terjadi. Apa yang Abang ingin? Mau apa? Katakan saja! Jangan biarkan aku menduga dengan manis. Aku takut kenyataan akan membuatku terluka.Pahamilah naluriku, aku tak butuh canda tawa yang membuat rindu. Aku butuh kata tajam tapi membuatku terbang hingga ke angkasa." Entah apa maksud Bela membalas itu

Dalam benak Adil "Kayaknya dia tersihir, mungkin dia mulai Gede rasa, wkwkwk hahahahaha "
Tak ingin membuat Bela galau, Adil pun membalas lagi "Begini, dik. Aku dengan penuh rasa cinta dan sayang, ingin melihatmu menjadi wanita yang tangguh, mampu membentengi diri, menjadi panutan bagi wanita lain. Aku mengagumi dirimu sebab kecintaanmu terhadap agama, kamu berani hijrah, mengambil langkah yang tepat yang tak mudah bagi wanita lainnya"
Hijrah? Cinta agama? Itukan memang gambaran sosok Bela dalam benak Adil. Adil pernah mengatakan itu sebelumnya. Berarti pesan itu murni, bukan sekadar latihan, tapi isinya beneran. Bela mulai membaca ulang dari atas. Tapi sebagai seorang perempuan, Bela tetap ada rasa GR dan bangga sebab Adil menuliskan kata cinta dan sayang kepada dirinya. Padahal, Adil Hanya berusaha membujuk Bela. Tanpa sesuai dengan kenyataan hatinya.
"Bak budik, ini beneran Bang? Kirain latihan. Aku gak bisa romantis lagi ni. Kirain tadi latihan, mau aku keluarkan juga jurus-jurus ularku yang lain" Bela memprotes.
Akhirnya, yang ditanya-tanyakan pun terjawab sudah "Tak mudah bagiku, apalagi kamu adalah wanita yang spesial dalam hidupku. Baiklah, dik. Aku tak ingin melihatmu hidup dalam dilema bati. Aku hanya ingin meminta satu hal. Setelah ini usai. Jadilah kamu wanita yang berprestasi. Yang membuatku bangga dengan segala kerendahan yang kamu punya"

Bela mulai mengulang dan membalasnya lagi dari awal. Tadi ia hanya balas dengan berperan menjadi orang lain. Kini, dia membalas menjadi dirinya sendiri...
"Benarkah bang?                         
Aku seistimewa itu bagimu?                                 Mengapa bisa sedemikian?
Kenapa kau begitu ingin aku menjadi pribadi sesempurna itu?

Bukankah kau tau tabiatku sudah sangat buruk?
Bagaimana aku bisa mengubahnya?
Ya, aku tau, jika aku mau aku pasti bisa. Masalahnya, aku ragu melakukan itu.

Aku butuh orang orang  yg mendukung dan membantuku untuk sampai pada harapanmu itu, yang sebenarnya juga harapan semua org yg mengenalku, khusus ibu dan ayahku, bahkan aku pun ingin sekali bisa menjadi wanita yg baik dan sempurna akhlaknya seperti ratunya kekasih Allah, Sayyidah Fatimah.

Tpi entah kenapa, aku malu untuk ke sana.
Aku bahkan tak percaya diri bahwa kelak aku pantas menjadi panutan bagi yg lain, sebab apa?
Aku lebih hina dari yg kau tau.

Kau hanya belum tau seburuk apa ceritaku di masa yg lalu, sebab memang aku tak ingin kau tau. Aku tak akan menceritakan segalanya kepadamu.

Aku takut, bila aku tau, kau justru akan meninggalkanku, menjauh dariku.
Aku tak mau itu terjadi.
Aku takut kehilanganmu bang.

Sebab, kau begtu baik kepadaku, kau mengajarkanku untuk tak takut membagikan harta ku kepada org lain
Kau begitu berharga bagiku...

Aku saat ini memang ingin dekat dan semakin dekat dg agama dan Allah, tpi tak berarti saat ini aku tak punya dosa.

Abang jgn mengira aku sudah sesuci ceritaku Tentang Bang!....

Allah saja yg saat ini sangat baik kepadaku Menutup semua aibku di hadapanmu.
Aku hijrah krna aku sudah sangat lelah dg hidupku yg penuh dengan dosa....

Doakanlah aku bang, ajak dan bantulah aku untuk menjadi sosok yg membuatmu bangga, sebab aku pun menginginkan itu sejak dlu... 😭😭😭"

Adil membalas yang terakhir kali "Aku tahu itu, bagaimana perasaanmu saat kau ceritakan kepadaku tentang kisah dan alur cerita hidupmu. Satu yang kupinta, jadilah Bela  yang berprestasi untuk orang tua dan dirimu sendiri, sudah ya, semoga ini menjadi inspirasi bagimu. Ayolah berubah, jadilah lebih baik. Aku tak ingin pertemanan kita sia-sia.."
Sebelum dia offline, Adil kembali mengirimkan pesan "Kalau kamu gak sibuk, coba tulis ini dalam sebuah cerita yang rapi ya. Mau saya share. Oya, ini hanya bentuk latihan sesuai janji. Satu permintaan saya. Kalau bicara coba hilangkan kebiasaan mengucapkan kata "Bak Budik" kalau sama saya tidak apa apa, tpi kalau sama yang lain jangan, karena kurang enak aja didengar. Bagusnya wanita itu berkata kata yang lembut ya kan? " Dia menasehati Bela untuk kesekian kalinya lagi.
"Iya bang, insyaallah, makasih banyak yaaa. Doakan Bela mampu ya!" Pinta Bela
"Bak budik itu tidak akan enak diucapkan dengan bahasa yang halus. Saya akan tertawa  kalau misalnya wanita selembut Indah mengucapkan kata itu. Hahaha"  Adil kembali menyebut nama Indah dan membandingkannya..
Bela hanya membalas dengan emot sedih dan menangis.
"Kamu jadilah diri sendiri dengan penuh percaya diri. Tapi tetap dalam garis. Saya tak meminta kamu menjadi orang lain. Tetapi ikuti hal baik yang dimiliki orang lain.Karena semua itu akan membawamu menjadi lebih baik. Itu harapan dan misi saya. Semoga kamu mengerti..."

Darussalam, Banda Aceh, Pukul 4.40, 21 April 2018.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar