Coba kau tanya, apakah sebelumnya aku pernah bermimpi seperti ini? Sungguh, aku bukan nona Nam, Jaksa Jung dan Woo Tak serta pak Choi dalam film While You Were Sleeping yang bisa mengetahui masa depan lewat mimpi-mimpiku. Membayangkan pernah menjadi kekasih orang sepertimu pun aku tidak pernah. Ternyata, keputusan itu memang salah. Memilih hati untuk nyaman kepada orang y sama sekali bukan bayanganku selama ini. Pernah kuminta kau datang kepadaku? Aku masih ingat lagi, siapa y bersusah payah ingin bersama. Siapa yang berkorban dan siapa yang menhan malu untuk tetap bisa bersama. Aku juga masih ingat siapa y matanya merah karena nangis dg sandiwaraku.
yang nangis karena kutipu aku adalah istri orang. Aku belum lupa siapa yang rela dimarahi ibunya karena terlambat pulang ke rumah setelah keluar malam bersamaku. Aku juga masih ingat sekali siapa yang bolos les demi bertemu aku setiap malam. Aku juga masih ingat siapa yang setiap hari gk pernah henti mengirimiku pesan, siapa yang setiap hari membuat hp ku berdering sampai untuk memainkan media sosialku pun aku tak punya waktu karena kau kau saja yang mengusik hariku. Tapi, aku tidak pernah melarangmu. Aku bahkan dengan bahagia menerima semua perlakuan dan unjuk cintamu. Tapi kau?? Apa yang kau balas Sekarang. Iya, kuakui. Aku pernah memblokirmu saat kita berantam, tapi tidak lama. Hanya setengah atau satu hari saja. Itupun dengan tujuan bukan untuk membuatmu terhalang menghubungiku. Bukan tujuanku untuk membuatmu gundah atau menyerah. Aku hanya memblokirmu agar aku tau sejauh mana usahamu untuk mencari jalan lain untuk menghubungiku. Aku selalu membukanya kembali. Tapi kini?? Kau memblokir semua akunku. Kau memblokir setiap kali nomor baruku menghubungimu. Kau memblokir setiap aku mengirimkan satu pesan, bahkan sebelum aku sempat mengirim lanjutannya.
Aku tau aku punya salah. Aku menduakanmu. Tapi, bukannya itu sudah kau maafkan 2 hari sebelum kau mencaci makiku? Bukannya kau sudah tidak ingin membesarkannya karena kau mengerti aku? Bukankah katamu kau benr2 menyayangiku? Apa kau lupa kata-kata apa saja y pernah kau nyatakan padaku? Kenapa kini kau mengaku kita tidak pernah punya ikatan? Lantas, apa arti semua y kita jalani selama ini? Aku bahkan sudah pernah menulis mu surat tentang ini. Aku lelah jika harus menulis ulang.
Ya, kuakui aku pernah mencacimu, memakimu, tapi kau tahu itu hanya sebentar, tidak akan berlarut seperti y kau lakukan padaku kini. Sungguh, aku tidak pernah membayangkan ini sedikitpun terjadi. Kau bahkan tidak dalam gambar y buruk di bayanganku. Aku masih selalu mengenang mu dg smua kebaikan, kesungguhan dan ketulusanmu. Sedikitpun aku tidak menyangka kau akan berkata sekasar itu kepadaku.
Ternyata benar. Dulu, kau perlakukan dia di depanku seperti itu. Tapi aku melihat tetap masih ada harapan dan upaya darimu untuk kembali dengannya. Aku pernah berkata kepadamu "Kau mencaci makinya skrang, kasar padanya seperti itu. Aku yakin, nanti saat kita tidak bersama lagi atau saat kau marah kepadaku pun kau akan melakukan hal yang sama." Apa yang kau kata? "Gak". Ternyata benar ya kan?? Kau bahkan memakiku dengan lebih kasar "Banyak kali bacot kau, anak jadah pukaima" Wow, kau memang selalu jadi orang pertama dalam ceritaku. Kaulah orang pertama yang berlatar demikian kepadaku. Bahkan, dari keluarga atau temanku sendiripun aku tidak pernah mendengarnya. Tapi kau? Kau bahkan bersikap lebih tua dariku. Seolah aku lebih muda darimu dan kau pantas menghinaku seperti keterangan di profilmu. "Panggil Gue Sampah" Seolah kau ingin menunjukan kalimat itu kepadaku.
Ya, aku memang sampah. Sampah bagimu dan mereka bahkan aku sendiri juga akan menganggap kalimatku itu benar. Aku adalah sampah. Y dengan bodohnya memacari murid-murid sendiri. Yang dulunya aku kau sanjung dan puji kini kau hina bagaikan akulah lelaki paling hina dan menjijikan. Kudoakan, smga kelak. Kau akan bersama dengan lelaki yang kau pilih saat ini. Kau akan menjadi istri yang baik dan mendapatkan kebahagiaan sebagaimana y kau inginkan. Ternyata kau memang belum dewasa. Aku telah salah menilaimu. Semua perhatian dan caramu mendekatiku kuanggap satu ketulusan yang akan abadi. Ternyata aku salah. Kau memang masih anak kecil. Kau bahkan tidak punya sikap dewasa sedikitpun. Sama seperti cara kau mencandaiku di depan teman-temanmu. Kuanggap itu ekspresi terlalu bahgiamu dan cara kau mencari perhtianku. Ternyata aku salah. Kau kini bahkan lupa bahwa aku pernah menjadi bapak gurumu. Kau bahkan lupa bahwa aku pernah memberimu ilmu. Kau benar-benar mencampakkannya tanpa penjelasan yang dapat aku terima.
Biarlah, aku yang salah akan dibalas sesuai salahku. Smga kau tidak akan merasakan apa yang aku rasakan. Apapun yang kau lakukan saat ini. Aku mencintaimu. Aku selalu mengingatmu. Aku msih merindukanmu. Aku ingin tetap bersamamu meski kutahu kini kau telah tumbuh dewasa, menjadi seorang karyawan dan menjadi seorang model cantik. Aku masih di sini, berharap kau memilihku lagi. Aku masih sendri. Bukan karena tidak ada wanita lain y mendekatiku. Tapi karena di hatiku hanya ada satu nama. Hatiku telah terkunci. Kuncinya ada padamu. Aku sendiri tidak bisa membukanya lagi untuk mengganti nama y baru. Sebab, kaulah pemiliknya meski kau sendiri telah enggan masuk ke sana. Biarlah kenangan bersamamu akan kulukis indah seperti keahlianmu dalam melukis.
22/11/2017 FiNa....